Racing is my blood, Islam is my way to life

Jangan Abaikan Rasa Nyeri!

Rasanya, semua orang pasti pernah didera rasa nyeri. Bisa karena salah posisi tubuh, mengangkat benda terlalu berat, atau gara-gara memakai sepatu berhak tinggi. Jangan abaikan rasa nyeri, karena bisa jadi merupakan gejala penyakit tertentu.

Nyeri, berdasarkan faktor penyebabnya, dibedakan menjadi dua. Menurut dr. Yusak MT. Siahaan, dari Pain Clinic Siloam Hospital Lippo Karawaci, nyeri pertama adalah nyeri nosiseptif, yaitu nyeri yang disebabkan adanya kerusakan pada jaringan tubuh. Misalnya ada otot yang terpukul, luka, atau terkena benturan. ?Kedua, ada juga nyeri neuropatik, nyeri yang disebabkan kerusakan pada sistem jaringan syaraf.”

Sebenarnya, lanjut Yusak, ada juga yang disebut nyeri psikogenik, yaitu nyeri yang biasa muncul karena rasa cemas yang berlebihan, rasa khawatir atau gelisah akan sesuatu. Namun, nyeri yang disebabkan faktor psikogenik tak bisa didefinisikan ke dalam dua nyeri yang disebutkan di awal tadi. Sehingga, secara umum nyeri hanya dibagi ke dalam dua bagian saja, berdasarkan faktor penyebabnya.

Bagian tubuh mana sajakah yang dapat mengalami atau merasakan nyeri? Menurut Yusak, seluruh tubuh yang memiliki sensibilitas syaraf tentu dapat menyebabkan nyeri. “Kecuali rambut dan kuku. Sebab, di rambut dan kuku tidak terdapat jaringan nyeri. Sementara bagian tubuh lainnya memiliki jaringan-jaringan syaraf yang bisa menimbulkan rasa nyeri.”

Untuk mengetahui bagian tubuh yang terasa nyeri, biasanya dokter harus melakukan tiga hal. Pertama, anamnesi atau wawancara dengan pasiennya yang dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik. Jika masih belum diketahui penyebab nyerinya, dilakukan penunjang, misalnya dengan CT Scan, Magnetic Resonance Imaging (MRI), atau Electro Myography (EMG).

Jika nyeri yang diderita merupakan nyeri nosiseptif, dokter akan menanyakan dulu secara lisan apa keluhannya dan masalahnya di mana. Jika yang terasa nyeri di bagian pinggang, dokter akan memeriksa apakah nyerinya disebabkan oleh gangguan pada jaringan otot, tulang, atau referral pain (nyeri alih), misalnya dari ginjal, atau sebenarnya nyeri syaraf (neuropatik).

Jika hanya ototnya saja yang sakit, cukup dilakukan pemeriksaan fisik, misalnya bagian yang sakit ditekan. Jika ternyata sakitnya merupakan nyeri referral dari ginjal, bisa dilakukan Ultra Sonography (USG) untuk melihat ginjalnya. Namun, jika nyeri syaraf, pemeriksaan dilakukan dengan MRI atau EMG. Setelah dilakukan pemeriksaan lengkap, baru dokter bisa mengatakan dengan pasti nyeri yang dideritanya, penyebabnya, sampai terapi yang harus diterima pasien.

Untuk nyeri yang dirasakan di kepala (sakit kepala), menurut Yusak, dapat disebabkan dua hal. Pertama, nyeri akibat sesuatu di dalam tengkorak atau yang berhubungan dengan isi tengkorak (otak, selaput otak, pembuluh darah). Misalnya, nyeri akibat tumor otak, pecah pembuluh darah, atau meningitis (infeksi selaput otak). Kedua, nyeri yang disebakan faktor di luar tengkorak. Misalnya, ada otot-otot sekitar yang mengencang, referral pain akibat sinusitis, sakit gigi, dan sebagainya.

Oleh sebab itu, Yusak mengingatkan, alangkah baiknya jika merasakan nyeri, seringan apapun, langsung dikonsultasikan ke dokter. Sehingga, dapat segera ditangani sebelum semakin parah. “Jika nyerinya cenderung ke kelainan fungsi syaraf, dokter akan merekomendasikan untuk dievaluasi ke dokter syaraf. Misalnya, pada penderita diabetes yang sering sakit di kaki, tetapi dia tidak tahu sakitnya di mana. Dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang agar nyeri yang diderita dapat diketahui penyebabnya.”

SEPATU HAK TINGGI
Pada umumnya, secara fisik nyeri dapat terlihat dengan kasat mata. Jika penyebabnya adalah kerusakan jaringan tubuh, cirinya bisa terlihat dari adanya perlukaan di permukaan kulit, memar, lebam, atau bengkak. Secara umum, akan terlihat ada bekas kekerasan fisik. Namun, jika nyerinya tak terlihat secara kasat mata, letak nyeri dapat diketahui melalui pemeriksaan lanjutan, misalnya dengan menekan bagian tubuh yang mengalami sakit.

Setelah bagian tubuh yang nyeri ditekan dan memang terasa sakit, berarti ada jaringan yang rusak dan itu termasuk ke dalam nyeri nosiseptif . Tetapi, jika mengalami keluhan nyeri seperti rasa terbakar, tertusuk jarum, atau teriris-iris, itu bisa merupakan nyeri syaraf datau neuropatik.

Uniknya, meski secara anatomi tubuh antara pria dan wanita sangat berbeda, namun nyeri yang dirasakannya sama. Menurut Yusak, hanya faktor penyebabnya saja yang berbeda.

“Memang terdapat kekhususan pada wanita. Nyeri yang dialami biasanya disebabkan oleh faktor hormonal dan eksternal. Misalnya, wanita akan merasa sakit kepala dan nyeri otot di bawah perut menjelang menstruasi. Selain itu, faktor eksternal dapat disebabkan akibat pemakaian sepatu high heel (hak tinggi).”

Nyeri yang disebabkan pemakaian sepatu hak tinggi berkaitan erat dengan gangguan pada otot-otot yang mengalami kontraksi yang berlebihan akibat bentuk sepatu. Bentuk sepatu dengan hak yang tinggi akan menyebabkan kontraksi, bukan saja otot kaki yang berkontraksi, tetapi juga otot-otot yang menopangnya, yaitu betis. Sehingga, pada wanita yang kerap menggunakan sepatu hak tinggi dan aktif bergerak, kontraksi ototnya menjadi berlebihan dan akan menyebabkan nyeri, baik di betis maupun kakinya.

Meskipun nyeri bukanlah penyakit keturunan atau genetika, semakin tua usia seseorang, penyebab nyeri yang dialami akan semakin banyak. “Nyeri di usia tua paling banyak disebabkan penyakit penuaan (degenetarif), seperti gangguan pada tulang yaitu osteoporosis dan osteoartrosis (nyeri sendi), syaraf terjepit atau hernia nukleus pulposus (HNP), kerusakan syaraf, atau diabetes.”

Terapi atau pengobatan untuk mengatasi nyeri, Yusak menambahkan, sangat tergantung kepada penyebabnya. Jika penyebabnya nosiseptif, cukup diberi obat nyeri analgetik atau obat anti radang. Jika penyebabnya otot, obat yang diberikan adalah obat pelemas otot. Selanjutnya, jika penyebab nyerinya adalah ginjal, tentu ginjalnya yang akan diobati lebih dulu.

Namun, jika penyebabnya adalah fungsi syaraf, pengobatan yang diberikan agak berbeda dan khusus. Misalnya obat-obatan anti kompulsan atau anti depresan. “Jika nyerinya karena terjepit syarafnya, ya mau tidak mau harus dioperasi. Termasuk nyeri karena tumor, ya tumornya yang harus diangkat. Sebab, tidak akan bisa hanya diobati dengan pemberian obat-obatan biasa.”

NYERI DI PUNGGUNG
Delapan puluh persen pasien yang mengeluh nyeri biasanya ada hubungannya dengan spinal problem atau back problem, mulai syaraf terjepit, hingga persendian yang terganggu. ?Sebagian besar yang mengalami nyeri persendian di tulang punggung ini bisa sembuh cepat dengan obat-obatan konservatif,” papar dr. Anton Hono Wiyono, SpAn, dari Pain Clinic Siloam Hospital Lippo Karawaci.

Nyeri pada tulang punggung ini biasa diderita hingga 2-3 minggu lamanya. Intensitas nyerinya ada yang ringan, sedang dan berat. Jika nyerinya termasuk berat, tindakan atau pengobatannya harus cepat. Tetapi, jika ringan atau sedang, cukup dengan pengobatan konservatif seperti banyak istirahat, diberi obat gosok atau dipijat saja sudah bisa membaik dengan sendirinya.

Namun, sebagian kecil lainnya dapat merasakan nyeri yang lebih lama, bahkan berulang. Intensitas nyerinya pun dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Akibat nyeri yang tidak hilang ini, orang yang mengalami nyeri seperti ini akan merasa tidak nyaman, bahkan bisa sampai depresi. Jika sudah begini, kata Anton, sudah dibutuhkan terapi yang disebut intervensional pain medicine atau pengobatan nyeri dengan intervensi.

“Pengobatan ini berfungsi untuk menghilangkan nyeri atau rasa sakit di bagian tulang punggung atau hubungan antara tulang punggung ke tulang punggung yang memiliki banyak ruas yang mungkin saja terganggu. Yang paling sering bermasalah adalah bantalan-bantalan yang terdapat di antara ruas-ruas tulang punggung akibat mengangkat beban dengan posisi tubuh yang salah.”

Intervensional pain medicine, kata Anton, dilakukan dengan cara menyuntikan jarum di lokasi yang dianggap trigger point (tempat terdekat dengan target nyeri) untuk mengetahui letak nyeri dengan bantuan radiologi atau imaging. Jarum yang disuntikan itu terhubung dengan mesin radiofreksuensi yang dapat mengalirkan rangsangan ke struktur syaraf tertentu.

“Pada orang yang normal, tidak semua rangsangan akan menyebabkan nyeri. Tetapi, jika terkena angin atau sentuhan ringan saja sudah terasa nyeri, berarti ada filter syaraf di otak yang rusak. Dengan bantuan radiofreksuensi, rasa sakit yang berlebihan atau nyeri dari syaraf yang mengabarkan sinyalnya ke otak, bisa dimodifikasi. Sehingga sinyal rasa nyeri itu tak akan sampai ke otak. Radiofrekuensi ini berfungsi sebagai filter yang mampu memiliah rasa nyeri akibat rangsangan dari luar,” papar Anton, sembari menambahkan teknik ini masih sangat jarang digunakan dan merupakan perkembangan baru di dunia kesehatan.

NYERI PADA ANAK
Penyebab nyeri pada anak, menurut Yusak, hampir sama dengan yang dialami orang dewasa. Tetapi pada kasus-kasus tertentu, ada beberapa penyebab yang berbeda. “Nyeri yang timbul sangat tergantung kepada penyebabnya. Jika nyeri karena syaraf terjepit, kecil sekali kemungkinannya terjadi pada anak-anak. Tetapi nyeri karena radang otak, masih bisa muncul pada anak-anak. Atau kejang otot akibat terlalu sering berada di bawah sinar matahari, sehingga anak mengalami nyeri kepala.”

Selain itu, anak-anak pun tak jarang mengalami nyeri di perut yang disebabkan oleh gangguan lambung atau iritasi lambung. Termasuk nyeri di usus atau kram, nyeri yang diakibatkan akan tumbuhnya gigi baru, juga jatuh yang mengakibatkan luka. “Pada intinya, nyeri pada anak dapat disebabkan banyak faktor, termasuk di antaranya akibat perlukaan, bahkan kanker.”

Sumber: Nova

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s