Racing is my blood, Islam is my way to life

Jatidiri Bangsa Petualang “KURDI”

 

Darah Eropa di gunung, darah India di laut, menyatu di bangsa Kurdi
imageSuku Kurdi berasal dari rumpun bangsa Indo-Eropa. Mereka dikenal sebagai suku yang mendiami daerah pegunungan di perbatasan Iraq, Iran dan Turki sejak 8000 tahun yang lalu. Menurut Profesor Mehrdad R Izady, seorang pakar Kurdi dari Universitas Harvard, sejarah suku ini dapat dibagi menjadi 4 periode.

Pertama, periode Halaf (6000 SM sampai 5400 SM). Ini berdasarkan bukti-bukti arkeologis, seperti bentuk dan lukisan pada pot-pot kuno yang ditemukan di gunung Tell Halaf yang terletak di sebelah barat Qamishli (sekarang masuk wilayah Suriah).


Periode kedua (5300 – 4300 SM) disebut periode al-Ubaid, nama sebuah gunung di utara Iraq tempat ditemukannya banyak peninggalan kuno. Adalah penduduk Ubaid yang memberikan nama ‘Tigris’ dan ‘Euphrates’ untuk dua sungai utama di yang mengalir dari Kurdistan ke Mesopotamia. Mereka jugalah yang menurunkan suku Chaldean atau Khaldi.

Periode selanjutnya disebut zaman Hurri, dimana pusat kehidupan pindah ke kawasan pegunungan Zagros-Taurus-Pontus dengan beberapa kerajaan kecil: Arrap’ha, Melidi, Washukani dan Aratta. Sejumlah nama-nama kabilah (Bukhti, Tirikan, Bazyni, Bakran), sungai (Murad, Balik, Khabur), danau (Van) dan daerah (Mardin, Ziwiya, Dinawar) berasal dari zaman ini.

Periode berikutnya (mulai 2000 SM) diawali dengan kedatangan suku Hitti dan Mittani (Sindi) ke Kurdistan. Namun invasi besar-besaran bangsa Arya (Indo-Eropa) baru terjadi pada 1200 SM. Akibatnya, pada 727 SM, kerajaan Hurri terakhir, Mannaean, jatuh. Ini diikuti dengan munculnya kerajaan Medes dengan ibukota Ecbatana (sekarang Hamadan, Iran) yang bertahan hingga 549 SM. Kaum Medes inilah yang diakui oleh orang-orang Kurdi sekarang sebagai nenek-moyang mereka, sehingga transmitter televisi pertama mereka diberi nama “Med TV”.

Terakhir sekali adalah periode Semitik dan Turkik, menyusul interaksi mereka dengan orang-orang Yahudi, Nasrani dan Islam (Arab) serta asimilasi mereka dengan bangsa Turki (terbukti dengan adanya nama-nama kabilah seperti Karachul, Oghaz, Devalu, Karaqich, Iva, dan sebagainya).

Sebutan “Kurdi”
Catatan paling awal mengenai istilah Kurdi ditemukan dalam dokumen Raja Tiglath-Pileser I yang memerintah Assyria dari 1114 hingga 1076 SM. Disebutkan bahwa daerah “Qurti” di gunung Azu termasuk salah satu wilayah yang berhasil ditaklukkan oleh sang raja. Bagi orang Akkadian, sebutan “Kurti” digunakan untuk menunjuk mereka yang tinggal di kawasan pegunungan Zagros dan Taurus timur, sedangkan orang Babylonia menyebut mereka “Guti” dan “Kardu”. Sumber Yahudi, Talmud, beberapa kali menyebut tentang bangsa “Qarduim”.

Sementara itu, dalam catatan ekspedisinya pada tahun 401 SM, Xenophon menceritakan pertemuannya dengan orang-orang “Kardykhoi”. Ini diikuti oleh Polybius (130 SM) yang menyebut mereka “Kyrtioi”, dan Strabo (40 M) yang me-latin-kannya menjadi “Cyrtii”.

Menurut Profesor Izady, setidaknya sejak kurun pertama Masehi, istilah “Kurd” mulai umum dipakai untuk menyebut siapa saja yang mendiami wilayah pegunungan dari Hormuz hingga ke Anatolia. Adapun sejarawan Islam seperti ath-Thabari, al-Ya‘qubi, al-Mas‘udi dan Yaqut, mengakui keberadaan etnis Kurdi sama seperti etnis lainnya (Arab, Parsi, Turki, dan sebagainya).

Bahasa, Sub-suku dan Kehidupan
Di zaman pra-Islam, orang Kurdi menggunakan bahasa Pahlavi, bahasa Parsi kuno yang masih serumpun dengan Sanksekerta dan bahasa-bahasa Eropa. Setelah kedatangan Islam dan invasi nomad Turki, orang-orang Kurdi mulai menggunakan dialek suku Kurmanj, sebuah kabilah energetik dari dataran tinggi Hakkari yang berhasil membendung pengaruh Turki di Kurdistan. Begitu kuatnya pengaruh suku Kurmanj hingga mayoritas orang Kurdi masih banyak yang menyebut diri mereka “Kurmanj” dan bahasa mereka “Kurmanji”. Adapun sekarang ini, terdapat dua dialek utama dalam bahasa Kurdi: pertama, Kurmanji, dan kedua, Sorani (atau sering juga disebut “Kurdi”). Sub-dialeknya antara lain: Kirmanshah, Leki, Gurani dan (Dimili) Zaza.

Mengenai sub-suku, sejarawan Kurdi Syarafuddin Bitlisi (w. 1597 M) menyatakan dalam kitabnya Sharafnamah (Mukadimah 7-9) bahwa bangsa Kurdi terbagi empat, masing-masing mempunyai dialek dan adat-istiadat sendiri, yakni Kurmanj, Lur, Kalhur, dan Guran.

Seperti layaknya penduduk pegunungan, suku Kurdi hidup menetap dengan mata pencaharian pertanian dan peternakan. Namun setelah invasi bangsa Arya dan Turki ke wilayah mereka, sebagian mereka memilih cara hidup nomad (berpindah-pindah).

Sejak berakhirnya Perang Dunia Pertama, dan menyusul pengkhianatan Kemal Ataturk terhadap Perjanjian Sevres (1920), suku Kurdi mengalami diaspora (penyebaran), penindasan dan mendapatkan banyak tekanan di tanah tumpah darahnya sendiri yang kaya dengan minyak bumi dan mineral (chromium, tembaga, besi dan batubara). Lebih 20 juta orang Kurdi terpaksa tinggal di beberapa negara berbeda. Tidak kurang dari 10 juta orang Kurdi terdapat di Turki; sementara di Iraq terdapat lebih dari 5 juta orang; di Iran sekitar 6 juta orang; dan di Suriah 1 juta lebih. Tidak sedikit juga yang telah hijrah dan menetap di Eropa, Amerika dan Australia.

Agama dan Tradisi Keilmuan
Jauh sebelum masuknya Islam, suku Kurdi menganut agama-agama Parsi kuno seperti Zoroaster, Mithraisme, Manichaeisme dan Mazdak. Beberapa kuil penyembahan api peninggalan zaman itu masih terdapat sampai sekarang, antara lain di Ganzak (Takab), Bijar. Mereka juga sempat dipengaruhi oleh ajaran Yahudi dan Nasrani. Namun demikian, pengaruh agama-agama tersebut hampir semuanya terkikis habis dengan datangnya Islam di abad ke-7 Masehi. Patut dicatat, Kurdistan terletak tidak jauh (hanya 50 mil) dari Baghdad dan 200 mil saja dari Damaskus; keduanya merupakan pusat pemerintahan, perdagangan, dan keilmuan di kurun-kurun pertama Hijriah.

Karena itu tidak mengherankan jika saat ini mayoritas orang Kurdi (60 %), terutama yang berbahasa Kurmanji, adalah pemeluk Islam Sunni yang bermazhab Syafi‘i. Sebagian kecil (sekitar 1 juta orang) menganut Islam Shi‘ah, khususnya yang tinggal di Kirmanshah, Kangawar, Hamadan, Qurva dan Bijar di selatan dan timur Kurdistan (bagian Iran), serta mereka yang tinggal di Malatya, Adiyaman dan Maras di barat Kurdistan (bagian Turkey).

Sebagaimana minoritas Arab Suriah, golongan Syi‘ah Kurdi umumnya adalah pengikut aliran Alevi (atau ‘Alawi). Istilah “Alevi” bagi mereka punya konotasi ganda: pertama, sebagai pengikut Sayyidina ‘Ali ra dan, kedua, sebagai penyembah api atau penganut Zoroaster (dari kata alev yang berarti api). Kaum Alevi percaya bahwa Ali adalah manifestasi atau perwujudan (avatar) Roh Jagad Raya pada Babak Kedua dari Kehidupan Semesta, seperti dalam ajaran Yarshan. Di samping mengagungkan api dan cahaya, penganut Alevi biasanya bersujud menyembah matahari terbit dan bulan, sambil melantunkan tembang-tembang tertentu.

Mereka juga mengadakan pertemuan rutin yang disebut Ayini Jam. Aliran ini sempat dilarang keras dan diberantas di zaman Daulat Usmaniyah, terutama di masa pemerintahan Sultan Salim sekitar tahun 1514. Sempalan lainnya adalah Nushayriyyah, yang mengagung-agungkan Salman al-Farisi (sahabat Nabi) dan menobatkannya sebagai avatar nomor satu.

Bangsa Kurdi terkenal berani, kuat dan gigih. Mereka banyak berperan dalam menyebarkan dan membela Islam. Tidak sedikit tokoh-tokoh agama (ulama), pemimpin dan pejuang Islam yang notabene adalah suku Kurdi. Sebut saja, misalnya, Ibn Khallikan (w. 681 H/ 1282 M, sejarawan, pengarang kitab Wafayat al-A‘yan ), ‘Syaikh al-Islam’ Ibn Taymiyyah (w. 728 H/ 1328 M), Ibn al-Atsir (w. 630 H/ 1232 M, pengarang Usud al-Ghabah, Ibn Qutaybah al-Dinawari (w. 276 H/ 889 M, pengarang kitabTa’wil Musykil al-Qur’an), Ibn ash-Shalah as-Syahrazuri (w. 634 H/ 1236 M, pakar ilmu hadis yang terkenal dengan Muqaddimah-nya), Syaikh Ibrahim al-Gurani (pengarang kitab Ithaf adz-Dzakiyy), Badi’uz-Zaman al-Hamadani (w. 1007 M, pengarang kitab Al-Maqamat), dan Shalahuddin al-Ayyubi, panglima perang dan pahlawan Islam dalam Perang Salib yang berhasil merebut kembali Baitul Maqdis dari tangan orang-orang Kristen.*

Bangsa Tanpa Negara
Sebidang tanah merdeka di sebelah utara Iraq, itulah yang dijanjikan armada teror Bush dan Blair kepada bangsa Kurdi. Syaratnya, mereka membantu keduanya mengerubuti Iraq. Selain janji menggiurkan itu, menghancurkan rezim Saddam merupakan warisan dendam masa lalu. Diktator Iraq itu pernah membantai lebih dari seribu bangsa Kurdi tahun 1982. Ironisnya, senjata kimia yang digunakan Saddam kala itu dipasok Amerika lewat tangan Donald Rumsfeld, kini menteri pertahanan AS yang waktu itu orang penting dalam pemerintahan Ronald Reagan.

Alkisah, para milisi Kurdi bahu-membahu dengan serdadu Amerika-Inggris-Australia menyerang Iraq. Namun dasar Bush dan Blair, sekali pembual tetap pembual, janji tinggal janji. Sampai hari ini bangsa Kurdi masih jadi gelandangan tanpa negara sendiri.

Di mata dunia, Kurdi adalah potret etnis yang malang. Mereka tercerai-berai di seantero empat negara berbeda: Turki, Suriah, Iraq dan Iran. Sedihnya lagi, karena minoritas di keempat negara itu, sering kali kepentingan bangsa Kurdi diabaikan oleh pemerintah masing-masing negara tempat mereka berdiam. Akibatnya gampang ditebak, mereka ingin memisahkan diri dari negara induk masing-masing lalu mendirikan negara Kurdi

Tentu saja keinginan mereka, yang dinilai sebagai gerakan separatisme, segera ditentang oleh pemerintah masing-masing negara. Bahkan tidak hanya ditentang, tetapi juga ditumpas. Itulah yang menyebabkan Saddam membumihangus kawasan utara yang didiami Kurdi. Amerika dan koalisinya membuat aturan zona larangan terbang di langit Iraq kawasan ini.

Alhasil, di masa kini suku Kurdi tergolong sebagai suku bangsa yang tertindas di negeri sendiri. Padahal, kalau melihat catatan sejarah Islam, akan kita temukan adanya pahlawan besar Islam yang bernama Shalahudin Al-Ayubi yang notabene beretnis Kurdi. Juga ada Ibnu Taimiyah, ulama besar yang kesohor dari suku Kurdi. Dengan kata lain salah seorang anak suku Kurdi pernah menjadi orang yang sangat berjasa pada dunia Islam. Namun kini anak keturunan Shalahudin dan Ibnu Taimiyah bernasib malang, ditindas di negeri-negeri berpenduduk mayoritas Islam di Timur Tengah.

Kenapa etnis yang melahirkan pahlawan Islam itu dan ulama besar itu senantiasa terpinggirkan dan tertindas di negeri mereka sendiri? Dan siapakah gerangan suku Kurdi itu, apakah mereka tidak satu rumpun dengan bangsa Arab, Turki atau Parsi?

Jawabannya dapat Anda temukan pada serangkaian tulisan Syamsuddin Arif dan Dhurorudin Mashad berikut ini. Syamsuddin adalah seorang peneliti dan kandidat doktor pada International Institute of Thought and Civilization (ISTAC), Kuala Lumpur, Malaysia. Sedangkan Dhurorudin adalah peneliti pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta. Selamat menikmati.* (Hidayatullah)

Shalahuddin Al-Ayyubi
Dicintai kawan, disegani lawan, memenangkan perang besar dengan cara elegan. Putera Kurdi yang selalu jadi inspirasi

Shalahuddin Al-Ayyubi dilahirkan pada tahun 532 H/ 1138 M di Tikrit, sebuah wilayah Kurdi di utara Iraq. Shalahuddin adalah gelarnya, sedangkan al-Ayyubi nisbah keluarganya. Adapun nama sebenarnya ialah Yusuf bin Najmuddin.

Pada usia 14 tahun Shalahuddin ikut kaum kerabatnya ke Damaskus, menjadi tentara Sultan Nuruddin, penguasa Suriah waktu itu. Pangkatnya naik setelah tentara Zangi yang dipimpin oleh pamannya sendiri, Shirkuh, berhasil memukul mundur pasukan Salib (crusaders) dari perbatasan Mesir dalam serangkaian pertempuran. Pada tahun 1169 Shalahuddin diangkat menjadi Panglima dan Gubernur (wazir) menggantikan pamannya yang wafat. Setelah berhasil mengadakan pemulihan dan penataan kembali sistem perekonomian dan pertahanan Mesir, Shalahuddin mulai menyusun strateginya untuk membebaskan Baitul Maqdis dari cengkeraman tentara Salib.

Pada bulan September 1174, Shalahuddin menekan penguasa Dinasti Fatimiyyah supaya tunduk dan patuh pada Khalifah Daulat Abbasiyyah di Baghdad. Tiga tahun kemudian, sesudah kematian Sultan Nuruddin, Shalahuddin melebarkan sayap kekuasaannya ke Suriah dan utara Mesopotamia. Satu persatu wilayah penting berhasil dikuasinya: Damaskus (pada tahun 1174), Aleppo atau Halb (1138) dan Mosul (1186).

Sebagaimana diketahui, berkat perjanjian yang ditandatangani oleh Khalifah Umar bin Khattab dan Uskup Sophronius menyusul jatuhnya Antioch, Damascus, dan Yerusalem pada tahun 636 M, orang-orang Islam, Yahudi dan Nasrani hidup rukun dan damai di Suriah dan Palestina. Mereka bebas dan aman menjalankan ajaran agama masing-masing di kota suci tersebut.

Perang Salib
Namun kerukunan yang telah berlangsung selama lebih 460 tahun itu kemudian porak-poranda akibat berbagai hasutan dan fitnah yang digembar-gemborkan oleh seorang patriarch bernama Ermite. Provokator ini berhasil mengobarkan semangat Paus Urbanus yang lantas mengirim ratusan ribu orang ke Yerusalem untuk Perang Salib Pertama. Kota suci ini berhasil mereka rebut pada tahun 1099. Ratusan ribu orang Islam dibunuh dengan kejam dan biadab, sebagaimana mereka akui sendiri: “In Solomon’s Porch and in his temple, our men rode in the blood of the Saracens up to the knees of their horses”.

Menyadari betapa pentingnya kedudukan Baitul Maqdis bagi ummat Islam dan mendengar kezaliman orang-orang Kristen di sana, maka pada tahun 1187 Shalahuddin memimpin serangan ke Yerusalem. Orang Kristen mencatatnya sebagai Perang Salib ke-2. Pasukan Shalahuddin berhasil mengalahkan tentara Kristen dalam sebuah pertempuran sengit di Hittin, Galilee pada 4 July 1187. Dua bulan kemudian (Oktober tahun yang sama), Baitul Maqdis berhasil direbut kembali.

Berita jatuhnya Yerusalem menggegerkan seluruh dunia Kristen dan Eropa khususnya. Pada tahun 1189 tentara Kristen melancarkan serangan balik (Perang Salib ke-3), dipimpin langsung oleh Kaisar Jerman Frederick Barbarossa, Raja Perancis Philip Augustus dan Raja Inggris Richard ‘the Lion Heart’.

Perang berlangsung cukup lama. Baitul Maqdis berhasil dipertahankan, dan gencatan senjata akhirnya disepakati oleh kedua-belah pihak. Pada tahun 1192 Shalahuddin dan Raja Richard menandatangani perjanjian damai yang isinya membagi wilayah Palestina menjadi dua: daerah pesisir Laut Tengah bagi orang Kristen, sedangkan daerah perkotaan untuk orang Islam; namun demikian kedua-belah pihak boleh berkunjung ke daerah lain dengan aman.

Setahun kemudian, tepatnya pada 4 Maret 1193, Shalahuddin menghembuskan nafasnya yang terakhir. Ketika meninggal dunia di Damaskus, Shalahuddin tidak memiliki harta benda yang berarti, namun namanya harum terukir dalam sejarah dan jasanya dikenang sepanjang zaman.

Parcel untuk Musuh
Banyak kisah-kisah unik dan menarik seputar Shalahuddin al-Ayyubi yang layak dijadikan teladan, terutama sikap ksatria dan kemuliaan hatinya. Di tengah suasana perang, ia berkali-kali mengirimkan es dan buah-buahan untuk Raja Richard yang saat itu jatuh sakit.

Ketika menaklukkan Kairo, ia tidak serta-merta mengusir keluarga Dinasti Fatimiyyah dari istana-istana mereka. Ia menunggu sampai raja mereka wafat, baru kemudian anggota keluarganya diantar ke tempat pengasingan mereka. Gerbang kota tempat benteng istana dibuka untuk umum. Rakyat dibolehkan tinggal di kawasan yang dahulunya khusus untuk para bangsawan Bani Fatimiyyah. Di Kairo, ia bukan hanya membangun masjid dan benteng, tapi juga sekolah, rumah-sakit dan bahkan gereja.

Shalahuddin juga dikenal sebagai orang yang saleh dan wara‘. Ia tidak pernah meninggalkan shalat fardu dan gemar shalat berjamaah. Bahkan ketika sakit keras pun ia tetap berpuasa, walaupun dokter menasihatinya supaya berbuka. “Aku tidak tahu bila ajal akan menemuiku,” katanya.

Shalahuddin amat dekat dan sangat dicintai oleh rakyatnya. Ia menetapkan hari Senin dan Selasa sebagai waktu tatap muka dan menerima siapa saja yang memerlukan bantuannya. Ia tidak nepotis atau pilih kasih. Pernah seorang lelaki mengadukan perihal keponakannya, Taqiyyuddin. Shalahuddin langsung memanggil anak saudaranya itu untuk dimintai keterangan.

Pernah juga suatu kali ada yang membuat tuduhan kepadanya. Walaupun tuduhan tersebut terbukti tidak berasas sama sekali, Shalahuddin tidak marah. Ia bahkan menghadiahkan orang yang menuduhnya itu sehelai jubah dan beberapa pemberian lain. Ia memang gemar menyedekahkan apa saja yang dimilikinya dan memberikan hadiah kepada orang lain, khususnya tamu-tamunya.

Ia juga dikenal sangat lembut hati, bahkan kepada pelayannya sekalipun. Pernah ketika ia sangat kehausan dan minta dibawakan segelas air, pembantunya menyuguhkan air yang agak panas. Tanpa menunjukkan kemarahan ia terus meminumnya. Kezuhudan Shalahuddin tertuang dalam ucapannya yang selalu dikenang: “Ada orang yang baginya uang dan debu sama saja.”*

Habis Berjuang Sepah Dibuang
Maksud hati hendak merdeka dengan bantuan pihak ketiga. Bukannya mendapat manfaat, Bangsa Kurdi malah sering ditunggangi

Perjuangan bangsa Kurdi memperoleh tanah airnya sendiri adalah cerita konflik etnis terlama di kawasan Timur Tengah, di samping Palestina. Perjuangan itu sudah dimulai sejak abad ke-19. Bahkan problem yang dihadapi Kurdi lebih sulit. Pertama, jika rakyat Palestina hanya dihadapkan pada satu negara musuh, Israel, maka kaum Kurdi berbenturan dengan beberapa negara khususnya Iraq, Turki, serta Iran.

Kedua, jika perjuangan Palestina secara moral mendapat sokongan dari banyak negara, terutama negara Islam, maka gaung dukungan bagi Kurdi sangat lirih. Alasannya, problema Kurdi sama sekali minus dari solidaritas agama, mengingat yang dihadapi adalah kelompok seagama, di samping perjuangan mereka sepi dari jargon-jargon agama.

Ketiga, kendati menurut catatan antropologis, Kurdi merupakan etnis yang relatif tua usia, namun kesadaran terhadap wilayah baru muncul belakangan, bahkan sangat terlambat. Entitas Kurdi setidaknya telah dimulai sejak dua ribu tahun sebelum masehi. Mereka memang punya kesadaran etnis, tapi tidak mempunyai kesadaran kewilayahan, sebagai konsekwensi kultur tradisional nomaden, yang hidup berpindah-pindah dari Turki dan Iran ke lembah Mesopotamia sambil menggembala ternak dan bertani.

Pasca Perang Dunia I, ketika negara-negara mulai menetapkan garis perbatasan, barulah kesadaran wilayah kaum Kurdi muncul, terutama karena terdesak dan terpaksa meninggalkan pola hidup tradisionalnya, serta mulai menetap di berbagai pemukiman.

Daerah Penyangga
Sayangnya kesadaran kewilayahan kaum Kurdi ini sangat terlambat. Sebab, Kurdistan sudah terlanjur tersayat-sayat menjadi 5 kepingan yang terintegrasi dalam negara Turki, Iraq, Iran juga Suriah dan mendiang Soviet. Inilah perbedaan asasi masalah Kurdi dari problema Palestina. Jika kaum Palestina sejak awal sudah memiliki tanah air, yang akhirnya dicaplok Israel, maka secara historis kaum Kurdi dapat dikatakan tak memiliki kesadaran, apalagi realitas sebuah tanah air.

Dunia akhirnya mencatat, entitas Kurdi kendati dalam sejarah peradaban manusia dikenal sebagai komunitas besar, punya bahasa dan budaya spesifik, tinggal di seputar daerah tertentu wilayah Kurdistan, yang sekarang tercabik dalam 5 negara namun sampai kini tak pernah memiliki negara. Bahkan, secara historis pula daerah mereka selalu dijadikan buffer-zone (daerah penyangga) beberapa negara bertetangga yang saling menguasai sebagian wilayah yang dihuni kaum Kurdi. Dahulu, Kurdi dijadikan buffer-zone Persia (Iran Pra Islam) dan Romawi Timur (Bizantium), berikutnya antara Iran dan Turki Utsamani.

Belakangan, wilayah Kurdi kebali menjadi buffer-zone 5 negara yang menguasainya, serta menjadikan kaum Kurdi sebagai monoritas di Iraq, Iran, Turki, Suriah dan mendiang Soviet sebagai alat kepentingan politik mereka. Isu Kurdi saling dijadikan komoditas tawar dalam permusuhan antar mereka.

Rezim Baath Iraq acapkali memberi dukungan kepada Kurdistan Democratic Party (KDP) Iran guna menggoyang musuh bebuyutannya, pemerintah Teheran, dalam konflik perbatasan Saath al-Arab. Sebaliknya, Iran melakukan simbiosis mutualisme dengan pemberontak Kurdi Iraq, KDP-Provisional Command, ketika terjadi perang Iraq-Iran, 1980-1988.

Sebelumnya, ketika Shah Iran berkuasa, Kurdi dijadikan komoditi tawar terhadap Iraq dalam perjanjian Al-Jir, Maret 1975. Iran mendapat banyak konsesi pemanfaatan Shaat al-Arab, dengan imbalan Iran tak lagi membantu pemberontak Kurdi Iraq.

Suriah tak ketinggaan dalam memanfatkan isu Kurdi. Tahun 1975 misalnya, Damaskus melindungi pemimpin pemberontak Kurdi Iraq, Jalal Talabani, dengan memberi paspor Suriah. Bahkan militer Talabani yang mengungsi ke Suriah dimanfaatkan sebagai polisi perbatasan dalam menghadapi Rezim Baath Iraq. Kala itu memang terjadi kompetisi panas rezim Baath Iraq vs Baat Suriah yang hampir menjerumuskan dalam perang. Sekitar tahun itu pula Suriah (dan Iran) membantu Kurdi Iraq pimpinan Barzani dengan artileri berat dan misil dari darat ke udara. Suriah juga sempat memanfaatkan Kurdi terhadap Turki. Turki malah sempat mengancam Suriah untuk melibas PKK alias Kurdistan Workers Party pimpinan Abdullah Ocalan yang punya kamp di Lembah Beka, wilayah kekuasaan Suriah. Jika Damaskus tak kooperatif, Turki akan mencari bantuan Israel.

Lebih tragis, isu Kurdi dimanfaatkan oleh AS dan sekutunya demi kepentingan politik regional mereka. Di era Shah Iran yang pro Amerika, Barzani yang kala itu berakrab dengan Israel dan Shah Iran mendapat pasokan 16 juta dollar selama tiga tahun dari Richard Nixon melalui CIA., terutama untuk mengahadapi rezim Iraq yang main mata dengan Soviet. Namun, menyusul tergulingnya Shah Reza Pahlevi, AS ganti mendekati Saddam untuk menghadapi rezim Mullah Iran, sehingga tak lagi berkepentingan pada Kurdi Iraq.

Inilah ironi perjuangan kaum Kurdi. Seolah negara-negara tempat mereka tinggal plus kekuatan besar macam Amerika peduli pada perjuangan Kurdi terhadap negara tetangga. Namun, tak satu pun dari mereka secara substansif berkehendak Kurdi punya sekedar daerah otonomi, apalagi negara sendiri, yang dikhawatirkan dapat mengganggu stabilitas domestik mereka.

Dalam pusaran permainan politik ini, hakekatnya Kurdi tak memperoleh manfaat apapun dari bantuan yang dibungkus kemunafikan tadi. Sebaliknya, akibat permainan politik antar negara tadi, Kurdi justru kerap menuai petaka. Tahun 1988 misalnya, kaum Kurdi Iraq dibantai Saddam dengan senjata kimia. Sekitar 4000 Kurdi di Halabsah tewas, disusul 2500 lainnya didesa Butia, Mesi, Amadiyah, dan sebagainya. Saddam menuduh Peshmarga (milisi Kurdi) Iraq berkhianat dalam perang Iraq-Iran, karena berkolaborasi dengan Pasdaran (pasukan Iran).

Keberhasilan Iran merebut wilayah Kurdistan Iraq awal 1988 memang tak lepas dari dukungan Kurdi Iraq. Dus, berpijak pada pengalaman getir tadi, pemuka Kurdi seharusnya tak lagi sembarangan membangun kongsi agar tak terjebak permainan politik yang justru mengundang tragedi bagi mereka sendiri.*
Dhurorudin Mashad/Hidayatullah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s