Racing is my blood, Islam is my way to life

Menyikapi Perbedaan ( Sunnah – Syi’ah)

Persatuan dan kesatuan adalah salah satu tujuan utama ajaran Islam, serta sebagai cerminan dan implikasi nilai Tauhid.

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku” (QS. Al Anbiya.[21]:92).

Tauhid melahirkan aneka kesatuan, salah satu diantaranya adalah kesatuan umat, namun bukan berarti tidak ada perbedaan, sebab di dalam al Quran sendiri mengakui adanya perbedaan.

“Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepada kamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu perselisihkan itu “. (QS. Al Maidah [5]:48)

Namun  saat yang sama, Allah menegaskan bahwa :
“Manusia adalah umat yang satu. Lalu Allah  mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan dan menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan diantara manusia tentang perkara yang mereka selisihkan “. ( QS. Al Baqorah [2]:213)

Maknanya, keragaman dan perbedaan tidak dapat dihindari, namun pada saat yang sama dituntut juga persatuan dan kesatuan.

Disinilah kita harus membedakan antara perbedaan dengan perselisihan. Keragaman dan perbedaan dapat menjadi rahmat selama dialog dan syarat-syaratnya terpenuhi.

Apabila keragaman dan perbedaan mengarah pada persilisihan sambil menganggap dirinya atau kelompoknya memonopoli kebenaran, sedangkan selain dirinya atau kelompoknya memonopoli kesalahan, akan menjadi bencana.

Harus juga dibedakan antara Ushul ad Din (prinsip-prinsip pokok ajaran agama) dengan Furu ad Din (Rincian ajaran agama) dan harus juga dibedakan antara ajaran agama yang bersifat pasti (Qathi) dengan ajaran agama yang penafsirannya mengandung aneka kemungkinan makna (Zhanny), yang boleh jadi semua benar atau sebagian salah dan sebagian lagi benar.

Perpecahan umat Islam yang terjadi dikarenakan adanya perbedaan yang mengarah kepada peselisihan yang telah diupayakan untuk menghilangkan perselisihan dengan dialog antar sesama umat Islam guna mendekatkan antar mazhab, yang dirintis oleh tokoh-tokoh Sunnah dan tokoh-tokoh Syi’ah pada tahun 1948 di Mesir yang melahirkan Lajnah at Taqrib baina al Mazhahib (Team Pendekatan Antarmazhab) yang diketuai oleh Syaikh Mahmud Syaltut, yang kemudian menjabat sebagai pemimpin tertinggi lembaga – lembaga al Azhar.

Upaya pendekatan antar mazhab mulai dirintis lagi setelah Revolusi Iran dan lahirlah Al Majma al Alamy lit Taqrib.

Pada tanggal 28 Ramadhan 1427 H (20 Oktober 2006) di Mekkah, yang dipayungi oleh OKI, telah dilangsungkan pertemuan antara ulama-ulama Irak yang bermazhab Sunnah dan Syiah membahas perpecahan yang mengakibatkan kafir mengkafirkan antar sesama Muslim, bahkan pertumpahan darah dan pertempuran yang mengatasnamakan Sunnah dan Syiah.

Dari pertemuan tercetus piagam bersama yang terdiri dari sepuluh butir, tapi karena keterbatasan ruang dan waktu, akan dikutip hanya 2 butir saja yaitu :

Pertama,
Seorang Muslim adalah siapa yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah rasul-Nya.

Dengan kesaksian ini terpelihara darah, harta, dan kehormatannya, kecuali dengan haknya (ada alas an hukum yang membenarkannya) dan Allah yang akan perhitungan atasnya.

Termasuk dalam hal ini adalah seluruh penganut (mazhab) Sunnah dan Syiah. Kesamaan-kesamaan yang terdapat pada keduan mazhab ini berlipat ganda dibandingkan dengan perbedaan-perbedaan dan sebab-sebabnya.

Perbedaan antara kedua mazhab, dimanapun ditemukan adalah perbedaan cara pandang dan penafsiran bukan perbedaan ushul keimanan, tidak juga Rukun-rukun Islam.

Tidaklah dibenarkan oleh agama bagi salah satu mazhab untuk mengafirkan seseorang dari penganut mazhab lainnya. Nabi Muhammad saw bersabda :

“Siapa yang berkata kepada saudaranya:”Wahai si kafir” maka salah seorang diantaranya adalah kafir”.

Tidaklah dibenarkan oleh agama mengutuk, mencela satu mazhab karena kesalahan yang dilakukan oleh pengikut mazhab itu.

Kedua,
Darah dan harta kaum Muslim serta kehormatannya mereka haram (diganggu). Allah berfirman :

“Dan barang siapa yang membunuh seorang Mukmim dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya”.(QS. An Nisa[4]:93)

Nabi Muhammad saw bersabda :
“Setiap Muslim atas Muslim yang lain haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya”.

Karena itu tidak dibenarkan mengganggu seorang Muslim- Syiah atau Sunni – dengan membunuh, menyakiti meneror atau melakukan agresi terhadap hartanya atau mendorong (orang lain) melakukan hal-hal tersebut, atau memaksanya meninggalkan negerinya atau tempat tinggalnya atau menculiknya, atau mengambil sandera dari keluarganya akibat akidah atau mazhabnya.

Siapa yang melakukan hal tersebut. Maka dia telah lepas dari perlindungan kaum Muslim seluruhnya, tokoh-tokoh rujukannya, ulama-ulamanya dan keseluruhan kaum Muslim.

Semoga …semua itu sebagai upaya untuk menghilangkan kesalahpahaman antar umat dan dapat menghimpun umat dalam panji Tauhid yang dikibarkan oleh Nabi Muhammad saw dapat diwujudkan.  Amiiin……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s