Racing is my blood, Islam is my way to life

Riwayat Bangsa terlaknat


Meski dilahirkan dari keturunan orang baik-baik, tapi pembangkangan bangsa Yahudi terhadap Allah dan Rasul-Nya menjadikan mereka terlaknat hingga hari kiamat.

Palestina ditakdirkan Allah untuk menjadi tempat para Nabi dan Rasul berdakwah. Dalam sejarahnya, Palestina telah menyaksikan berbagai model kepemimpinan dan kekuasaan para Nabi dan penguasa. Mereka harus menghadapi banyak peperangan sengit untuk menegakkan bendera kebenaran di atas tanah yang berkah ini.

Umat Islam meyakini semua Nabi dan menganggap seluruh warisan mereka merupakan milik umat ini. Sebagaimana kita juga meyakini ajaran Islam merupakan perpanjangan ajaran para Nabi terdahulu. Ajaran para nabi secara keseluruhan adalah ajaran yang juga diserukan Muhammad saw.

Khazanah pengalaman yang dilalui seluruh Nabi dalam berdakwah untuk menegakkan kebenaran dan ibadah kepada Allah SWT, tidak bisa dipisahkan dari dakwah dan pengalaman-pengalaman umat Islam.

Allah berfirman, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Taghut) itu’. Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul),” (QS an Nahl : 36).

Ini merupakan ajaran ke-Esaan yang diemban setiap rasul. Ketika ada yang menolak, berarti mereka menolak seluruh nabi. Di antara bangsa yang paling banyak melakukan pembangkangan terhadap Allah dan Rasul-Nya adalah bangsa Yahudi. Al-Qur’an cukup membekali kita dengan beragam kisah tentang kebiadaban bangsa ini.

Memang, di antara para Nabi, ada juga yang berasal dari Bani Israel. Para nabi dan para pengikut mereka yang lurus adalah persoalan lain. Nabi-nabi adalah manusia terbaik. Mereka hendaknya tidak didiskreditkan. Kita tidak boleh terpikat pada cerita-cerita Bani Israel yang tidak saja menjelekkan para Nabi bahkan mereka juga menjelekkan Tuhan.

Kitab Taurat dan Talmud yang telah diubah (diselewengkan) mengatakan bahwa Tuhan (Yang Maha Tinggi, Mulia dan Agung) bermain dengan ikan paus dan ikan yang lain selama tiga jam tiap hari. Mereka juga mengatakan bahwa Dia menangis karena pembumihangusan al-haikal (rumah ibadah mereka seperti layaknya Sinagog) yang berakibat susutnya ukuran fisik-Nya dari tujuh surga menjadi empat. Gempa bumi dan angin ribut terjadi adalah sebagai akibat dari air mata Tuhan yang jatuh ke laut atas hancurnya al haikal tersebut. Klaim-klaim mereka ini disebutkan oleh al-Qur’an, “Orang-orang Yahudi berkata, ‘Tangan Allah terbelenggu’”, (QS al-Maidah: 64). Dalam ayat lain disebutkan, “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya’,’”(QS Ali Imran: 181).

Dalam sejarahnya, Yahudi telah jauh melenceng dari ajaran Taurat. Hal ini terlihat dalam perilaku keseharian mereka, kesenangan melanggar kewajiban dan melakukan imoralitas dengan sikap terus bersikukuh terhadap apa yang mereka nisbatkan kepada para nabi. Ini tidak lain hanyalah bentuk kebohongan dan pemalsuan belaka. Para sejarawan, khususnya dari kalangan Islam, dalam mengkaji sejarah Palestina hendaknya tidak tergesa-gesa menuduh para nabi Allah dan rasul-Nya dengan apa yang dibuat-buat Yahudi. Kalau memang ikatan akidah dan iman adalah dasar yang menyatukan umat Islam walau perbedaan bangsa dan warna, maka umat ini merupakan orang yang paling berhak dengan warisan para nabi termasuk para nabi Bani Israel. Karena umat ini yang masih tetap konsisten menjunjung tinggi bendera tauhid yang dibawa para nabi. Mereka adalah orang yang tetap menapaki jalan dan ajaran para nabi. Menurut pemahaman al-Qur’an para nabi adalah orang-orang yang berserah diri (muslimun) dan bersatu. Allah berfriman, “Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan nabi ini (muhammad), serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman,” (QS Ali Imran: 67-68).

Nabi Ibrahim merupakan nabi pertama yang kita ketahui hidup di Palestina dan meninggal di sana. Ia adalah bapak para nabi. Di antara keturunannya yang menjadi nabi adalah Ishak, Ya’kub, Yusuf, Ismail dan Muhammad saw.

Nabi Ibrahim dilahirkan di kota Uur, wilayah Iraq. Ia hidup di sana dalam kurun waktu cukup lama. Ia menghancurkan patung-patung dan mengajak kaumnya kepada tauhid. Ia menghadapi Raja Namrud yang berupaya membakarnya. Nabi Ibrahim hijrah ke wilayah Hurran (ar-Raha) daerah yang berlokasi di wilayah selatan Turki dan utara Syria saat ini. Dari sana ia berhijrah ke Kan’an, wilayah Palestina. Allah berfirman, “Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia,” (QS al-Anbiyaa: 71).

Menurut para ahli sejarah, kedatangannya di Palestina kira-kira pada 1900 SM. Sejarah ini menurut sejarah kuno Irak merupakan zaman “Uur Ketiga” dimana Iraq diperintah Samaritan. Ini juga merupakan permulaan zaman Babilonia kuno dimana unsur-unsur Semit yang datang dari jazirah Arab “Ammonites” mendominasi di sana.

Nabi Ibrahim mendiami Shecehm dekat Nablus. Dari sana ia berpindah ke arah Ramallah dan Quds melewati al-Khalil kemudian di Beer Sheba ia tinggal beberapa waktu. Kemudian pergi ke Mesir. Ia kembali dari Mesir ditemani Hajar yang merupakan hadiah dari pemimpin di sana.

Kemudian ia kembali ke Palestina melalui bagian sebelah Ghaza dan bertemu dengan Abu Malek, pangeran Ghaza. Ia berjalan-jalan antara Beer Sheba dan Hebron, lalu naik ke Quds. Adapun Luth berpindah ke Selatan Laut Mati dan diutus menjadi Rasul untuk penduduk wilayah tersebut. Sementara Ibrahim tetap tinggal di daerah pegunungan Quds dan Hebron. Nabi Ibrahim mendapatkan Ismail dari istrinya, Hajar. Setelah beberapa tahun ia diberi anak lagi yang bernama Ishak dari istrinya Sarah. Kelihatannya Ibrahim diberi anak-anak ketika usianya sangat lanjut. Hal itu dapat kita ketahui dari firman Allah dari lisan Sarah, “Isterinya berkata, ‘Sesungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua pula?’” (QS Hud: 72).

Nabi Ibrahim datang dan pergi ke Hijaz lebih dari sekali. Ia menempatkan Ismail dan ibunya, Hajar di Makkah. Kisah sa’i Hajar antara bukit Shafa dan Marwah masih diabadikan oleh jemaah haji hingga kini. Air zam-zam pun tetap memancarkan airnya. Bersama Ismail, Ibrahim membangun Ka’bah sebagaimana firman Allah, “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdo’a), ‘Ya tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,’” (QS al-Baqarah: 127).

Namun pusat kediaman Ibrahim tetap di Palestina dan di sana ia meninggal dunia dan dimakamkan di gua al-Makfeelah dekat Hebron. Sedangkan Nabi Ishak hidup di bumi Palestina dan mendapat anak yang diberi nama Ya’kub. Menurut anggapan Yahudi, Ya’kub merupakan bapak mereka. Nabi Yakub dilahirkan di Palestina dan berimigrasi ke Hurran. Ia menikah di sana dan mendapat 11 anak. Di antaranya Yusuf, dan anaknya yang ke 12, Benyamin dilahirkan di tanah Kan’an. Nabi Yakub dan anak-anaknya kembali ke Palestina dan bermukin di Saar” dekat Hebron (al-Kholil). Kisahnya dan kisah anaknya Yusuf yang terkenal terdapat dalam al-Qur’an secara terperinci pada surah Yusuf dari ayat satu sampai akhir.

Sejak meninggalnya Yusuf, keturunan Israel menetap di Mesir selama sekitar 300 tahun. Selama menetap di negeri itu, mereka hidup dalam penindasan raja Mesir yang bergelar Fir’aun (QS al-Qashash: 4). Sampai akhirnya Nabi Musa menyelamatkan mereka dan meninggalkan Mesir, pindah ke negerinya semula.

Setelah beberapa tahun Musa wafat, orang-orang Israel dipimpin oleh beberapa Nabi. Di antara mereka ada Nabi Ilyas dan Nabi Ilyasa. Setelah Nabi Ilyasa meninggal, keadaan bangsa Israel makin kacau balau. Peradaban mereka merosot dan ajaran Nabi Musa mulai ditinggalkan (QS asy-Syu’ara: 63-66).

Sabili

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s