Racing is my blood, Islam is my way to life

Geliat Muslim Tionghoa di Kota Pahlawan

Islam untuk semua, juga untuk etnis Tionghoa. Tidak percaya, datanglah ke Surabaya
Mendengar kata etnis keturunan Tionghoa, hal yang pertama kali terlintas dalam pikiran orang umumnya adalah mereka pasti non-Muslim dan eksklusif. Hanya bergaul dengan kelompok mereka sendiri dan kurang bisa berbaur dengan lingkungan sekitar. Padahal, orang-orang yang biasanya sukses dalam bidang ekonomi ini juga ada yang Muslim dan mempunyai komunitas sendiri.

Komunitas Muslim Tionghoa di Indonesia terkumpul dalam sebuah wadah organisasi bernama Pembina Iman Tauhid Indonesia (PITI). Dulu, PITI adalah singkatan dari Persatuan Islam Tionghoa Indonesia. Pergantian nama dari Persatuan Islam Tionghoa Indonesia menjadi Pembina Iman Tauhid Islam itu terjadi pada masa Orde Baru.

Menurut Sekretaris DPP-PITI, H.S. Willy Pangestu, pergantian nama itu terjadi karena ada ketakutan terhadap hal-hal yang berbau Tionghoa. ”Anda bisa lihat sendiri di kartu nama saya, “ ujar Willy sambil memberikan kartu namanya. Dalam kartu nama tersebut memang tertera nama PITI yang lama yang kemudian diganti dengan yang baru, yakni Pembina Iman Tauhid Islam.

PITI merupakan organisasi wadah komunitas Muslim Tionghoa dari seluruh nusantara. Organisasi ini memiliki tujuan mempersatukan kaum Muslimin Tionghoa di Indonesia dalam satu wadah, sehingga lebih berperan dalam proses persatuan bangsa.

Willy juga menolak persepsi sebagian orang selama ini yang menganggap bahwa etnis Tionghoa identik dengan non-Muslim. ”Tidak benar kalau etnis Tionghoa identik dengan non-Muslim dan cenderung eksklusif. Itu adalah produk kolonial Belanda yang diteruskan oleh pemerintah RI. Dan paradigma atau stigma itu dibawa terus sampai sekarang,” katanya.

Stigma semacam ini merupakan akibat jangka panjang dari penerapan politik devide et impera yang dilakukan Belanda. Akibatnya kalangan non-pribumi menjadi kelompok terpisah dari kalangan pribumi. Hal tersebut dapat dilihat dalam Regeringsreglement tahun 1854, masyarakat Hindia Belanda dibagi dalam tiga golongan besar, yaitu Europeanen (golongan Eropa), Vreemde Oosterlingen (Timur Asing), dan Inlander (pribumi).

Selama ini komunitas Muslim Tionghoa tidak pernah mendapat perhatian serius dari pemerintah bahkan cenderung diabaikan. Dari kalangan Islam yang lain juga kurang mendapat perhatian karena terlanjur tertanam stigma bahwa etnis Tionghoa itu eksklusif dan sulit didekati.

Sebenarnya, kata Willy, kalau mau didata secara akurat, jumlah Muslim Tionghoa di tanah air ini cukup besar. “Namun, pemerintah sekarang ini kan hasil didikan Belanda. Jadi keberadaan PITI ini sengaja tidak diekspos dan diawasi terus. Apalagi sejak pertama kali didirikan, PITI dipimpin oleh orang militer non-Tionghoa. Jadi secara nasional bisa dikatakan PITI habis, kecuali DPW PITI Yogyakarta dan Jatim. Sebab di kedua tempat ini pimpinannya masih getol untuk terus memperjuangkan PITI,” paparnya.

Di Surabaya, komunitas Tionghoa sudah menetap sejak zaman kolonial Belanda. Surabaya merupakan salah satu kota penting di Jawa dan salah satu kota tertua di Indonesia. Di masa kolonial, kota ini berkembang dan menjadi salah satu kota modern. Sebagai salah satu kelompok masyarakat yang datang dan menetap di Surabaya, jumlah orang Tionghoa semakin meningkat. Jika dibandingkan dengan kelompok imigran lain, Arab dan India, masyarakat Tionghoa menempati jumlah terbesar. Hal ini dapat dilihat dari data pada 1920, penduduk Tionghoa di Surabaya berjumlah 18.020 orang, Arab 2.539 orang, dan kelompok etnis Timur Asing lainnya 165 orang.

“Menurut data resmi DPW PITI Jatim, jumlah Muslim Tionghoa di Surabaya sekarang sekitar 600-an. Tapi sebenarnya jauh lebih banyak dari itu. Hal ini disebabkan selama 30 tahun etnis Tionghoa jarang berorganisasi sehingga menjadi lemah dalam berorganisasi,” ujar Willy, yang juga merangkap sebagai sekretaris DPW PITI Jatim ini.

PITI sendiri sebagai sebuah organisasi, bisa dikatakan masih berjalan tertatih-tatih. Sejak berdiri pada 1961 hingga sekarang, PITI baru menyelenggarakan muktamar sebanyak tiga kali. Pada Muktamar Nasional III yang dilangsungkan di Surabaya, Desember 2005 yang lalu, HM Trisnoadi Tantiono terpilih sebagai Ketua DPP PITI. Sedang H. Mohammad Gozali menjadi Ketua DPW PITI Jatim. Dalam muktamar yang diselengarakan untuk ketiga kalinya itu, PITI menekankan pada pemantapan konsolidasi organisasi yang solid. Semua itu menjadi penting untuk lebih meningkatkan amal ibadah dengan ikut berperan serta aktif mengisi kemerdekaan Indonesia.

Program utama PITI diarahkan untuk menyampaikan dakwah Islam, khususnya kepada masyarakat Tionghoa. Caranya dengan melakukan pembinaan dalam bentuk bimbingan menjalankan syariat Islam di lingkungan keluarga yang masih non-Muslim. Kemudian persiapan berbaur dengan umat Islam di lingkungan tempat tinggal dan pekerjaan serta pembelaan dan perlindungan bagi mereka yang karena masuk Islam, namun bermasalah dengan keluarga dan lingkungannya.

PITI juga mengadakan pengajian rutin untuk membina para muallaf. Masih dalam rangka pembinaan, PITI menerbitkan Juz ‘Amma berbahasa Mandarin dan buku tuntunan berjudul “Tuntunan bagi Saudara Baru” yang berisi tata cara shalat dan surat-surat pendek al-Qur’an (Juz ‘Amma). Semuanya ditulis dalam tiga bahasa: Arab, Mandarin dan Indonesia. Buku ini dimaksudkan untuk memberi inspirasi warga etnis Tionghoa agar masuk Islam. Penerbitnya adalah Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo (YHMCH), sebuah yayasan yang didirikan oleh PITI.

Lukisan Cheng Ho

Yayasan ini berfungsi memayungi aktivitas PITI. YHMCH juga menerbitkan majalah KOMUNITAS serta buku lainnya. Salah satunya adalah buku yang berjudul Prasasti Masjid Laksamana Cheng Hoo yang berisi sejarah hidup Laksamana Muhammad Cheng Hoo. Semua itu menjadi sarana komunikasi dan informasi serta sosialisasi PITI kepada sesama warga Tionghoa. Upaya sosialisasi PITI tersebut setidaknya membuahkan hasil yang cukup memuaskan. Setiap hari Jumat minimal ada satu orang dari etnis Tionghoa yang mengikrarkan dua kalimat syahadat di Masjid Cheng Hoo.

Mesjid Cheng Hoo Surabaya

PITI Jatim bertekad membangun jembatan komunikasi dengan warga sekitar yang terlihat dalam ragam kegiatannya. Setiap Jumat PITI Jatim membagikan buku serta alat tulis kepada anak-anak kecil yang berada di sekitar sekretariat PITI. Warga sekitar juga dilibatkan dalam kegiatan sosial lainnya seperti pembagian sembako murah, perayaan Nuzulul Qur’an, perayaan ulang tahun Masjid Cheng Hoo, Gema Ramadhan PITI, donor darah serta pengobatan tradisional akupunktur Tiongkok.

Pusat aktivitas PITI, selain dilakukan di gedung sekretariat PITI yang beralamat di Jalan Gading No. 2 Surabaya, juga dipusatkan di Masjid Cheng Hoo. Masjid berarsitektur Tiongkok ini mulai dibangun pada 10 Maret 2002 dan selesai 13 Oktober tahun 2002 dengan biaya sebesar Rp 700 juta. Muhammad Cheng Hoo dipilih untuk nama masjid sebagai bentuk penghormatan kepada Laksamana Haji Zheng Hee (Cheng Hoo) atau dikenal dengan nama Ma Zheng He.

Mesjid Cheng Hoo Semarang berbentuk Replika Perahu

Bagi masyarakat Indonesia, terutama masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia, nama Laksamana Haji Zheng Hee atau Muhammad Cheng Hoo sudah cukup dikenal, sekalipun lebih popular dengan sebutan Sam Poo Kong. Bahkan masyarakat Jawa mengenalnya dengan sebutan Dampo Awang. Ekspedisi Laksamana Muhammad Cheng Hoo (1405-1433 M) yang berkeliling dunia untuk membuka “Jalur Sutera dan Keramik’’, selalu melintasi Indonesia (Nusantara).

Masjid ini bernaung di bawah Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo. Sekalipun tidak terlalu luas bahkan relatif sedang untuk ukuran sebuah masjid, daya tarik utama Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia seluas 200 meter persegi dengan kapasitas 200 jamaah ini, terletak pada arsitekturnya. Arsiteknya adalah Ir. Aziz dari Bojonegoro, kemudian dikembangkan oleh Tim Pengawasan dan Pembangunan masjid dari PITI dan Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia. Ustadz Drs. H. Burnadi dipilih menjadi Ketua Takmir Masjid Cheng Hoo.

Masjid ini memang dibangun warga keturunan Tionghoa. Tetapi sebagai rumah Allah, masjid ini seperti masjid lainnya terbuka untuk masyarakat secara luas tanpa melihat warna kulit, maupun golongan. Karena, Islam adalah agama fitrah yang cocok untuk semua. Kartika Pemilia (Surabaya) / ( Sabili )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s