Racing is my blood, Islam is my way to life

Survei: Pengunjung Gereja Menurun di Eropa

imageSurvei menunjukkan adanya penurunan dalam jumlah mereka yang datang ke gereja dan yang melakukan kegiatan keagamaan di sebagian besar negara di Eropa. Anehnya Islam justru berkembang.

Sebuah survei terbaru menunjukkan adanya penurunan tajam jumlah kunjungan yang datang ke gereja dan yang melakukan kegiatan keagamaan di sebagian besar negara di Eropa.

Serangkaian survei barometer Eropa yang dilakukan sejak 1970 di lima negara utama (Prancis, Belgia, Belanda, Jerman dan Italia) menunjukkan bahwa jumlah mereka yang berkunjung secara tetap ke gereja turun dari sekitar 40 persen populasi kelima negara itu menjadi hanya sekitar separuh angka itu. Penurunan itu sangat tajam di negara-negara dominan Katolik.

Ada dua potret yang dapat direkam saat kita melihat Ceko, yang bisa jadi cermin Eropa saat ini. Di Praha, ibukota Republik Ceko, bar-bar dan kafe selalu penuh dengan toko-toko kristal mewah dan benda-benda seni yang ramai terus dan puluhan bangunan katedral dan gereja bersejarah yang rata-rata kosong melompong — kecuali oleh turis yang sibuk memotret kesana-kemari.

Di dalam surat kabar mingguan berbahasa Inggris, Prague Post, sebuah artikel di halaman depannya, dengan rincian yang sangat menarik perhatian, melaporkan tentang bagaimana kota itu menjadi ibukota baru Eropa untuk pembuatan film porno, sementara sebuah tajuk mempertanyakan mengapa hanya 19 persen rakyat di negara yang pernah demikian religius yang percaya akan adanya Tuhan.

“Sudah umum bahwa jumlah pecandu alkohol melebihi jumlah umat Kristen yang taat dan bahwa lebih banyak warga Ceko yang lebih percaya akan UFO daripada terhadap Tuhan — demikianlah keadaan disana pada umumnya,” tulis Nate dan Leah Seppanen Anderson dalam sebuah komentar di Prague Post.

Nate adalah seorang penulis freelance, sementara Leah adalah guru besar ilmu politik di Wheaton College di Illinois dan ahli tentang politik dan masyarakat Cekoslowakia.

Meskipun demikian, bagaimana kita bisa menerangkan demikian dalamnya perasaan dukacita mereka ketika meninggalnya Paus Paulus II dan antusiasme bahwa penggantinya kelihatan akan membangkitkan semangat?

Apakah ini semua semata-mata hanya merupakan tontonan publik, yang memberitahukan bahwa tidak ada apa-apanya tentang penyimpangan Eropa dari akar keagamaannya, atau apakah semuanya itu merupakan sinyal tentang hasrat terhadap sesuatu yang lebih dari sekedar perdamaian, kesejahteraan dan kehidupan yang mewah dan menyenangkan?

Prospek Menakutkan

Sebagai turis biasa ke Eropa, sebagian orang mengaku tidak ahli dalam masalah ini. Namun sebagian lainnya melihat adanya kebangkitan era pasca Kristen di Eropa yang memiliki konsekuensi sangat besar bagi benua itu dan barangkali sebuah pertanda tidak menyenangkan bagi Amerika Serikat.

Ke mana Eropa pergi, Amerika boleh jadi ikut — dan itu adalah prospek yang menakutkan umat Kristen dan mempertajam perpecahan agama di benua tersebut.

Eropa Barat, tempat kelahiran Kristen modern, telah menjadi sebuah masyarakat pasca Kristen, dimana kelas yang berkuasa dan para pemimpin kebudayaan adalah anti-agama atau ‘kristen-fobi’, tulis George Weigel, seorang kolumnis Katolik AS dan penulis biografi Sri Paus Paulus II.

Dalam buku barunya, “The Cube and the Cathedral: Europe, America, and Politics Without God”, dia mengatakan bahwa perbedaan agama membantu menjelaskan tentang ketegangan-ketegangan politik antara Eropa dan Amerika Serikat.

Populasi PBB

Tidak satu negara di Eropa pun yang memiliki tingkat kesuburan yang memadai untuk menggantikan populasinya dewasa ini, yang oleh para ahli demografi dikatakan memerlukan 2,1 anak per keluarga. Jerman, Rusia, Spanyol, Polandia dan Italia, semuanya hanya memiliki tingkat kelahiran 1,3 anak, menurut PBB.

Tingkat kelahiran di Republik Ceko hanya 1,2, dan bahkan di negara Roma Katolik Irlandia tercatat 1,9 anak. (Tingkat kelahiran di Amerika Serikat, yang masih tetap stabil, sedikit diatas 2 anak per wanita).

Limabelas negara, sebagian besar di Eropa Selatan dan Timur, memiliki tingkat kesuburan yang berlum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah kemanusiaan,�demikian menurut revisi Prospek Populasi Dunia PBB 2004.

Karena jarangnya kelahiran anak dan meningkatnya jumlah mereka yang berumur panjang di Eropa, benua itu sedang berproses menjadi sebuah Dunia yang lapang. Mulai tahun 2050, PBB memperkirakan, lebih 40% rakyat Italia akan berusia 60 tahun atau lebih. Mulai pertengahan abad ini, populasi di negara-negara Eropa akan lebih rendah dari yang sekarang; Rusia akan kehilangan 31 juta rakyatnya, Italia 7,2 juta, Polandia 6,6 juta dan Jerman 3,9 juta jiwa.

Jadi Eropa meninggalkan agama, bertambah tua, menciut dan pelan-pelan membunuh dirinya sendiri. Ini merupakan tanda-tanda dari kemunduran sebuah masyarakat.

Nah menariknya, perkembangan Islam di Eropa justru makin bertambah. Sebelumnya, tahun 2005 lalu, Kardinal Vatikan, Kardinal Camillo Ruini, melarang wanita Katolik untuk tidak menikah dengan pria-pria Muslim.

Larangan ini, datang seiring dengan semakin pesatnya jumlah populasi umat Islam di Italia setelah adanya perkawinan itu. (sumber: Harian Analisa/hidayatullah.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s