Racing is my blood, Islam is my way to life

PUASA

Adalah mencegah diri untuk melakukan hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar sampai terbenamnya matahari yang ditandai dengan hilangnya mega merah di sebelah timur dengan niat mendekatkan diri (qurbah) kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya.
 
A. Syarat-syarat Wajib Puasa
  Yaitu syarat-syarat yang jika terpenuhi pada seseorang, maka puasa menjadi wajib baginya. Syarat-syarat tersebut adalah:
 
1. Baligh dan berakal sehat.
2. Tidak dalam keadaan haidh dan nifas.
3. Puasa tidak membahayakan dirinya. 
4. Tidak sedang dalam perjalanan yang mewajibkan qashar (musafir)
   
B. Syarat-syarat Sah Puasa 

Yaitu syarat-syarat yang menjadikan puasa wajib seseorang itu sah. Syarat-syarat tersebut adalah:
1. Semua yang disebut di atas.
2. Islam dan Iman 
3. Niat yang waktunya adalah sbb: 

a. Puasa Ramadhan bagi orang yang tidak memiliki udzur, waktunya adalah sebelum masuk waktu shubuh atau bersamaan dengan waktu shubuh.
b. Puasa Ramadhan bagi yang memiliki udzur, seperti tidak tahu, bahwa pada hari itu adalah Ramadhan, atau baru datang dari perjalanan, atau baru sembuh dari sakit, waktunya sampai masuknya waktu Dhuhur. 
c. Puasa wajib lain selain Ramadhan selain puasa nadzar yang tidak ditentukan waktunya, atau puasa qadha? Ramadhan, waktunya sampai masuk waktu Dhuhur.
d. Puasa sunnah, waktunya sampai sebelum masuk waktu maghrib. 

 

 

 

C. Hal-hal yang Membatalkan Puasa
 

1. Makan dan minum dengan sengaja
2. Onani
3. Memasukkan cairan makanan ke dalam tubuh
4. Muntah dengan disengaja.
5. Sengaja tetap dalam keadaan janabah sampai masuk waktu shubuh.
6. Memasukkan seluruh kepala ke dalam air (ahwath wajib)
7. Masuknya debu yang tebal ke dalam kerongkongan.
8. Melakukan hubungan badan suami istri dengan sengaja.
9. Berbohong atas nama Allah SWT, Nabi Saww dan para Imam as.

   
D. Macam-macam Kewajiban Puasa Qadha

I. Qadha? tanpa kaffarah (namun hari itu harus tetap puasa)
 
1. Bagi seorang yang setelah junub tidur lagi untuk kali kedua dan ketiga, dengan niat akan bangun lagi sebelum shubuh, namun tertidur sampai masuk waktu shubuh.
2. Bagi orang yang membatalkan puasa dengan niat untuk membatalkan puasa, namun tidak melakukan sesuatu yang membatalkan puasa. Begitu juga orang yang membatalkan puasanya dengan riya?.
3. Bagi yang terus makan dan minum dengan anggapan belum masuk waktu shubuh (tanpa memperhatikan waktu) setelah itu ketahuan bahwa sudah masuk waktu shubuh.
4. Bagi orang yang tetap makan dan minum karena pemberitahuan orang lain, bahwa belum masuk waktu shubuh, ternyata sudah masuk waktu shubuh.
5. Bagi orang yang terus makan dan minum padahal telah diberitahu, bahwa sudah masuk waktu shubuh, namun ia menganggap orang tersebut tidak serius dalam pemberitaannya.
6. Bagi orang yang berbuka puasa bersandarkan kepada orang lain yang dapat dijadikan sandaran (dapat dipercaya dan tahu hukum) yang memberitahukan padanya, bahwa sudah masuk waktu Maghrib, ternyata belum masuk.
7. Bagi yang berbuka puasa karena langit sudah gelap dan dia merasa yakin, bahwa sudah masuk waktu Maghrib, namun ternyata belum masuk, dengan syarat langit tidak dalam keadaan mendung.
8. Bagi orang yang lupa mandi janabah dan ingat setelah berlalu sehari atau lebih.
9. Bagi yang memasukkan air ke dalam mulut untuk kumur-kumur, namun secara tidak sengaja ada air yang masuk ke dalam kerongkongan.
   
II. Qadha? tanpa kaffarah dan pada hari itu tidak wajib berpuasa.
 
1. Bagi orang yang tua yang tidak mampu berpuasa, begitu juga orang yang memiliki penyakit tidak dapat menahan haus, jika setelah itu mampu melaksanakannya.
2. Bagi yang tidak berpuasa karena sebab yang membolehkannya tidak berpuasa, seperti musafir, sakit, haidh atau nifas.
3. Wanita hamil atau menyusui yang puasa membahayakan dirinya saja.
   
III. Qadha? dengan fidyah (satu hari satu mud makanan, yaitu + 700 gr beras)
  Bagi wanita hamil yang hampir melahirkan dan wanita menyusui jika membahayakan anaknya atau dirinya dan anaknya.
   
IV. Qadha? dengan kaffarah biasa, yaitu memilih salah satu dari yang tiga berikut:
 
1. Memerdekakan budak
2. Puasa 2 bulan berturut-turut
3. Memberi makan 60 orang miskin

Bagi yang membatalkan puasanya dengan sengaja dengan melakukan salah satu dari yang membatalkan puasa, kecuali muntah dengan sengaja.

   
V. Qadha? dengan kaffarah ganda, yaitu wajib melakukan ketiga sanksi di atas.
  Bagi yang membatalkan puasanya dengan yang haram, seperti minum/ makan yang haram, zina, onani dll.
   
VI. Fidyah tanpa qadha?
  Bagi yang tidak berpuasa karena sakit dan sakitnya terus berlanjut sampai bulan Ramadhan berikutnya.

E. Hukum Puasa Qadha

1. Tidak boleh diakhirkan sampai tiba bulan Ramadhan tahun berikutnya.
2. Jika diakhirkan sampai masuk bulan Ramadhan tahun berikutnya, maka ia berdosa dan wajib tetap melakukannya kapan saja sebelum mati dan membayar fidyah (1 fidyah untuk satu hari)
3. Boleh bagi orang yang sedang puasa qadha?, untuk membatalkan puasa qadha?nya sebelum Dhuhur.
4. Bagi yang membatalkan puasa qadha?nya setelah Dhuhur, maka selain wajib menggantinya pada hari yang lain, ia wajib memberi makan 10 orang miskin dan jika tidak mampu berpuasa tiga hari.
5. Wajib bagi anak laki-laki tertua untuk mengganti puasa ayahnya yang ditinggalkan dan menurut Imam Khamenei ibunya juga.

F. Orang-orang yang Tidak Diwajibkan Baginya Qadha 

1. Orang kafir asli jika masuk islam.
2. Orang sunni yang menjadi syiah jika yang dia lakukan saat sunni sesuai dengan madzhabnya saat itu atau sesuai dengan madzhab syiah.
3. Anak kecil yang baligh pada siang hari bulan Ramadhan, walaupun sebelum Dhuhur.
4. Bagi yang tidak berpuasa karena musafir, sakit, haidh dan nifas kemudian mati pada Ramadhan tersebut.

G. Cara Menetapkan Awal Bulan Ramadhan dan Awal Syawal

1. Dengan melihat sendiri bulan sabit tanggal 1 Ramadhan/ Syawal pada saat adzan Maghrib dan beberapa saat setelahnya pada tanggal 29 bulan sebelumnya, yang munculnya di sebelah barat di sekitar terbenamnya matahari. Menurut Imam Khomeini harus dengan mata telanjang dan menurut Imam Khamenei boleh juga dengan alat (teleskop).
2. Dengan berlalunya 30 hari dari bulan berikutnya.
3. Dengan persaksian dua orang laki-laki yang adil.
4. Dengan tawatur, artinya sudah menjadi berita umum, karena banyak yang melihatnya, walaupun mereka tidak adil, namun mustahil mereka sepakat dalam kebohongan dan akhirnya menimbulkan keyakinan pada kita.
5. Ketetapan hakim syar?iy, dengan syarat kita tidak tahu kesalahannya atau kesalahan sumbernya.

   
H. Macam-macam Hukum Puasa

1. Puasa wajib

a. Puasa bulan Ramadhan.
b. Puasa qadha? Ramadhan dan puasa ayah/ ibu yang meninggal bagi anak tertua laki-laki
c. Puasa nadzar.

2. Puasa haram

a. Puasa di dua hari raya Idul Fitri dan Idul adha.
b. Puasa pada tanggal 30 sya?ban dengan niat puasa Ramadhan.
c. Puasa pada hari-hari tasyriq, yaitu 11, 12 dan 13 Dzulhijjah bagi yang sedang di Mina.
d. Puasa memenuhi nadzar maksiat.
e. Puasa wishal, artinya menyambung puasa sampai hari berikutnya dengan niat puasa.
f. Puasa diam, niat berpuasa dalam keadaan tidak akan berbicara.
g. Puasa sunnah seorang istri tanpa disetujui oleh suaminya.

3. Puasa sunnah, banyak sekali, diantaranya:

a. Puasa tiga hari setiap bulan, afdhalnya hari Kamis pertama, hari Kamis terakhir dan hari Rabu pertama pada sepuluh hari kedua setiap bulan.
b. Puasa pada hari-hari putih (Ayyamul Biydh) yaitu tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulan.
c. Hari Idul Ghadir tanggal 18 Dzulhijjah.
d. Hari lahir Nabi Muhammad Saww tanggal 17 Rabiul Awal
e. Hari mab?ats/ bi?tsah (pengangkatan) Nabi Saww tanggal 27 Rajab.
f. Hari arafah tanggal 9 Dzulhijjah, bagi orang yang puasa tidak mencegahnya untuk dapat membaca doa Arafah dan tanggal 1 Dzulhijjah telah ditetapkan dengan hilal, sehingga tidak ada keraguan lagi bahwa hari itu adalah tanggal 10 yang merupakan hari raya Idul Adha.
g. Hari Mubahalah tanggal 24 Dzulhijjah sebagai tanda syukur kepada Allah SWT yang telah menampakkan keutamaan Ahlul Bayt as.
h. Setiap hari Kamis dan Jumat
i. Tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah
j. Bulan Rajab dan Sya?ban secara keseluruhan atau beberapa hari dari keduanya, walaupun masing-masing satu hari atau bahkan satu hari dari keduanya.
k. Tanggal 1 dan 3 bulan Muharram

4. Puasa makruh

a. Puasa seorang tamu tanpa izin tuan rumahnya.
b. Puasa anak kecil tanpa izin orang tuanya.

   
Catatan
1. Pada hari syak Ramadhan, dimana tidak jelas apakah sudah tanggal 1 Ramadhan atau masih tanggal 30 Sya?ban, kita tidak diwajibkan berpuasa. Hanya saja kita dianjurkan berpuasa dengan niat puasa sunnah Sya?ban atau dengan niat global, artinya kalau sudah Ramadhan maka puasa saya, puasa wajib dan kalau masih belum Ramadhan, maka puasa saya sunnah. Dengan salah satu dua niat tersebut jika memang setelah itu terbukti, bahwa saat itu sudah masuk bulan Ramadhan, maka tidak perlu lagi mengqadha?nya.

2.

Jika pada hari syak kita tidak berpuasa, dan sebelum Dhuhur dipastikan bahwa saat itu adalah bulan Ramadhan dan kita belum makan/ minum serta tidak melakukan hal-hal lain yang membatalkan puasa, maka kita wajib niat puasa dari saat itu.
3. Jika kita sudah makan/ minum atau melakukan hal yang membatalkan puasa, maka kita wajib imsak (tidak makan dan minum dan . . .) sampai Maghrib kemudian setelah bulan Ramadhan kita wajib meng qadha?nya.
4. Jika dipastikannya setelah Dhuhur, maka kita juga wajib imsak sampai Maghrib dan meng-qadha?nya, baik telah makan/ minum atau yang lainnya ataupun tidak.
5. Pada hari syak Ramadhan tidak boleh hukumnya kita berpuasa dengan niat Ramadhan.
6. Pada hari syak Syawal, dimana tidak jelas apakah sudah masuk tanggal 1 Syawal atau masih tanggal 30 Ramadhan, kita diwajibkan untuk tetap berpuasa.
7. Seorang musafir jika berangkat dari kotanya sebelum waktu Dhuhur, maka puasanya batal, kecuali ia kembali lagi ke kotanya sebelum Dhuhur dan belum melakukan yang membatalkan puasa.
8. Seorang musafir yang tiba sebelum Dhuhur di kotanya sendiri (wathan) atau di tempat yang akan tinggal disitu 10 hari atau lebih (muqim) dan sebelumnya belum melakukan yang membatalkan puasa, maka ia wajib niat puasa dan melanjutkan hari-harinya dengan puasa.
9. Seorang musafir yang akan tiba sebelum Dhuhur di kotanya atau di tempat muqimnya dan dia tidak ingin berpuasa di hari itu, maka ia harus melakukan yang membatalkan puasa (makan/ minum/ ?) sebelum masuk kota tersebut.
10. Seorang musafir yang akan mengadakan perjalanan harus tetap dalam keadaan puasa sampai ia melewati batas tarakhkhus (dimana adzan kotanya tidak terdengar lagi atau rumah penduduk akhir kotanya tidak kelihatan lagi)
11. Jika sudah ditetapkan secara syar?iy hilal di suatu tempat, maka tempat lain yang satu ufuq atau berdekatan dengannya boleh mengikutinya dalam penetapan hilal tersebut.
12. Puasa dua bulan berturut-turut dapat dilakukan dengan cara berpuasa 1 bulan penuh dan satu hari di bulan berikutnya, tanpa ada hari yang dilewati tanpa puasa tanpa udzur, kemudian sisanya boleh dicicil sampai genap 60 hari.
13. Jika pada bulan pertama kita memiliki udzur untuk tidak puasa, maka saat hilang udzur kita wajib berpuasa kembali, kalau tidak maka gugur puasa sebelumnya.
14. Kaffarah memberi makan 60 orang miskin atau fidyah dapat diberikan mentahnya, yaitu berupa beras/ makanan pokok lainnya. Sebagaimana juga dapat diberikan yang sudah masak, yang berati harus lengkap dengan lauknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s