Racing is my blood, Islam is my way to life

Iblis Laknatullah itu bernama Homoseksual ( part 2 )

Baca : Iblis itu bernama Homoseks ( part 1 )
imageimageNamanya Dede Oetomo, lahir di Pasuruan, 6 Desember 1953, Staf pengajar di FISIP Universitas Airlangga ini menyelesaikan studi doktornya dalam bidang linguistik di Cornell University. Penampilanya benar benar jantan, berbeda dengan Dorce penampilannya benar benar sudah wanita walaupun kadang kadang terlihat “agak berantakan sebagai wanita”, namun tekadnya untuk menjadi wanita patut kita hargai.

Siapa yang tidak kenal dengan Dede Oetomo ? Berbeda dengan Dorce yang sudah wanita, dibalik kejantanannya ternyata pribadi kewanitaan Dede sangat menonjol, namun Dede tetap berpenampilan sebagai laki laki dan tidak mau merubah dirinya menjadi wanita, sehingga sepak terjangnya bisa mengecoh siapa saja. Dikalangan kaum Homoseksual Dede memiliki kesibukan dan pekerjaannya sangat “khusus” yakni sebagai aktivist Gay (kaum homoseks) dengan skala tingkat dunia.

Yang menarik untuk saya angkat dalam tulisan ini adalah bukan persamaannya karena mereka Dede Oetomo dan Dorce adalah sama sama dilahirkan sebagai pria, namun memiliki perbedaan yang sangat jauh bagai bumi dan langit terutama dalam menjalankan kehidupan sosial & agama mereka sehari hari.

Berbagai upaya jeng Dede lakukan agar perilaku “SAKIT” kelompok ini dapat diterima oleh masyarakat luas di Indonesia dengan kemasan istilah “Gay” alias “Homoseksual”. Jeng Dede adalah salah satu pendiri dan aktivis Lambda Indonesia (1982), organisasi gay pertama di Indonesia, pendiri dan Ketua KKLGN (Kelompok Kerja Lesbian dan Gay Nusantara), juga Jeng Dede merintis publikasi Majalah GAYa NUSANTARA.

Bersama sama dengan saudara kembarnya yang juga “berperilaku SAKIT” kaum “LESBIAN”, dede aktif dalam berbagai kegiatan mendoktrin masyarakat terhadap kelompok lesbian-gay. Dari hasil jeri payahnya Dede mendapat anugerah Felipe de Souza Award dari International Gay and Lesbian Human Rights Commision (IGLHRC), pada tahun 1998 dan Utopian Award

Gaya Nusantara Jl. Mulyasari Timur No.46, Surabaya-JAWA TIMUR-60112 Tel: 031-5934924, Fax: 031-5993569 e-mail: gayanusa@ilga.orgwww.gayanusantara.org

APA BEDANYA DEDE vs DORCE?

Saya berlepas diri untuk tidak membicarakan masalah “perubahan statusnya yg menjadi wanita”. Dorce ? di zaman yang edan sekarang ini di Indonesia, siapa yang tidak kenal dengannya ? politikus, selebritis, pemuka agama, dan bahkan kaum Dhuafa sangat mengenal sekali seorang bernama Dorce. Yang membuat banyak orang menjadi respect dengannya adalah dia gunakan status wanitanya sepenuhnya untuk mencari rezeki yang halal dan memanfaatkan penghasilannya untuk berperan serta memberdayakan kaum dhuafa.

Berbagai usaha Dorce lakukan agar dirinya dapat diterima oleh masyarakat dengan berbuat amal kebajikan secara konkrit yang pada sebagian wanita menganggap kemampuan Dorce sudah melebihi takaran dibanding para wanita yang sesungguhnya. Dorce tidak menebar perilaku “SAKIT” kemasyarakat luas. Bahkan hampir saja kita masyarakat lupa bahwa Dorce adalah bekas Pria. Mudah mudahan Allah SWT dapat memberikan ganjaran yang setimpal dari usahanya mencari ke ridhoan Illahi.

Itulah bedanya Dorce versus Dede Oetomo, dengan berbagai jaringannya Dede Oetomo didalam dan luar negeri dengan secara ekstrim dan terang terangan menebar perilaku “SAKIT kesegala pelosok Indonesia. Dan secara perlahan lahan tapi pasti menebar perilaku “SAKIT” tersebut kedalam rumah rumah Muslim.

Apakah kerja keras Dede Oetomo berhasil ? Yah SUDAH !!
Kita lihat saja sekarang ini kehidupan Homoseksual sudah menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat kita dan sudah membanjir di TV, Radio, Majalah dan berbagai media. Bahkan sudah melanda dikalangan pelajar yang diantaranya dikalangan pelajar Bandung yang notabene mereka adalah Generasi Muslim.

Inilah hasil kerja Iblis Laknatullah yang seharusnya wajib dilaknat dan diberantas oleh kaum Muslimin negeri ini.

Lagi lagi kita hampir saja lupa, bahwa dibalik ini telah menganga lebar lebar kemungkinan besar terulangnya sejarah pemusnahan negeri seperti yang dialami oleh kaum Luth. Naudzubillahi min Dzalik !

Masihkah kita bertanya dan bernyanyi “Tuhan Marahkah Kau Padaku ?”.

Berikut ini saya kutipkan pemberitaan dari harian Republika Semoga Bermanfaat.

Wassalam

Erros Jaffar


 

Gay di Kalangan Pelajar Bandung

Homoseksual jelas merupakan penyakit sosial, tren kebobrokan moral yang wajib diatasi, bukan hak azasi manusia yang mesti dilindungi seperti dituntut oleh kaum gay sekarang.

KALAU saja pada zaman Nabi Luth sudah ada alat kamera syuting, tidak mustahil kita yang hidup kini dapat menyaksikan wajah dan bentuk adik Nabi Ibrahim ini, sekaligus mendengarkan nasihat dan pembicaraannya.

Namun, kita masih dapat juga mengikuti kisah perjuangannya melalui berbagai kitab tafsir Al Qur’an dan sumber lainnya.

Kisah Luth dan masyarakat Sodom mengingatkan manusia untuk menjauhi kebejatan moral yang tercermin dalam praktek homoseksual. Biladi masa Luth Allah menjatuhkan bencana longsor dan hujan batu terhadap pelaku kebejatan moral itu, kini Allah mengganjar pelakunya dengan penyakit HIV/ AIDS, perusak kekebalan tubuh yang belum ditemukan obatnya.

Perilaku seksual yang menyimpang (homoseksual) merupakan penyakit sosial, tren yang terjadi akibat kekosongan iman, Homoseksual bukan merupakan hak azasi manusia yang harus dilindungi seperti dituntut oleh kaum gay dewasa ini. Sebagai penyakit sosial, perilaku homoseksual bisa terjadi di mana-mana. Namun kalau sampai menimpa kalangan pelajar, tentu sungguh memprihatinkan dan merupakan masalah besar, terutama bagi para orang tua.

Survei di Kalangan Pelajar Bandung

Hasil penelitian dan penelusuran Yayasan Priangan Jawa Barat di Bandung menunjukkan tingginya kasus homoseksual terjadi di kalangan pelajar. Betapa tidak, dari hasil survei didapat sebanyak 21% siswa SLTP dan 35% siswa SMU disinyalir telah melakukan perbuatan homoseksual. Survei di tujuh kota besar di Jawa Barat semakin memperjelas kondisi tersebut.

Survei ini dipertegas lagi dengan adanya temuan dari Pelajar Islam Indonesia (PII) wllayah Jawa Barat. Setelah melakukan polling antara bulan September-November 2002 dengan menyebar angket sebanyak 400 lembar, hasilnya cukup mencengangkan. Sekitar 75% pelajar dan mahasiswa di berbagai kota di Jawa Barat melakukan penyimpangan kategori kenakalan remaja. Mereka terlibat tawuran, narkotika dan penyimpangan perilaku seksual.

Survei menunjukkan 45% pelajar melakukan perilaku penyimpangan seksual dan di antaranya 25% pelajar pria melakukan perbuatan homoseksual, PII menggunakan responden berusia antara 12-24 tahun. “Kendati kasus homoseksual tidak sebesar tawuran dan narkotika, tapi bila dibiarkan hal ini tentu bisa menimbulkan kerawanan sosial, terlebih perbuatan ini jelas-jelas melanggar aturan agama. Disinyalir pula ada komunitas kaum homoseksual di kalangan pelajar tersembunyi dan mereka berada di sekolah-sekolah favorit. Demikian menurut Ruslan Abdul Gani, Ketua Pll wilayah Jawa Barat.

Kerawanan sosial memarig ta terhindarkan dengan adanya kasus ini tidak sedikit mereka yang melakukaan penyimpangan perilaku seksual membumbuinya dengan kemaksiatan lain. Mereka melakukan apa saja asal bisa memenuhi yang mereka inginkan, termasuk berupaya dengan segala cara untuk mendapatkan sejumlah uang. Semakin parah ketika muncul kenyataan, perilaku homoseksual dijadikan sebuah profesi khusus dengan ekonomi. Gawatnya lagi kebiasaan ini sengaja ditularkan kepada para pelajar. Tidak sedikit dari pelajar yang terjerumus “menikmati” kebiasaan yang bertentangan dengan moral dan agama ini.

Tugas Berat Orangtua

Frank!, ketua Yayasan Priangan menjelaskan, mereka yang terkena perilaku homoseksual sengaja mencari-cari kesempatan untuk memenuhi syahwat setani tersebut, termasuk melakukannya dengan teman sekolah sendiri. Maka sudah seharusnya para orangtua memperhatikan perkembangan anak laki-lakinya, terutamayang telah mencapai usia siswa dan mahasiswa.

Perlu dipantau, antara lain, kemana dia pergi, kegiatan apayang hendak dilakukannya bersama temannya, dengan siapa ia bergaul dan seterusnya. Dalam pada itu, masyarakat tidak perlu bersikap hanya mencaci, membenci dan menyalahkan para pelaku, Yang perlu adalah pemberian solusi terhadap permasalahan yang terjadi. Beberapa di antara solusi itu adalah sebagai berikut:

Pertama, harus ada usaha untuk menghindari hal-hal yang bisa menimbulkan rangsangan (stimulasi seks).
Kedua, bila sudah cukup umur, segera dinikahkan. Ketiga, perlu adanya pemasyarakatan nilai-nilai agama agar bisa dipahami secara utuh dan substansial oleh pelajar, termasuk memberi batasan-batasan pergaulan, akhlak keteladanan dari pendidik serta pentingnya kejelasan bahwa perbuatan yang menyimpang itu jelas-jelas melanggar agama.

Kalau dibiarkan berlarut-larut akan sangat membahayakan. Dalam hal ini berbagai pihak perlu memberi perhatian pada para pelajar, Generasi penerus harus diselamatkan dari dampak buruk yang ditimbulkan kasus di atas. Jika tak sekarang, kapan lagi? Setelah azab tiba? Tentu tidak, dan kita harapkan, itu tak terjadi. (EraMuslim.com)

Homoseksualitas yang muncul pada masa Nabi Luth ternyata tidak dapat hilang dari permukaan bumi ini, bahkan pada masa kini telah menjalar ke berbagai pelosok di dunia ini, dan menyebarkan penyakit HIV/AIDS yang sangat berbahaya dan sampai sekarang belum ditemukan obatnya. Untuk memberantas penyakit sosial itu tidak cukup dengan ilmu pengetahuan saja. Sebab munculnya perbuatan itu, karena kekosongan iman dan taqwa kepada Allah SWT, serta kerusakan akhlak.

Maka untuk mengubur tradisi buruk itu harus melalui pendidikan keagamaan, terutama pendidikan Islam, dengan meningkatkan taqwa dan iman kepada Allah SWT, di samping melalui pendidikan kesehatan.

Main-main Jadi Perangai

Sekalipun kaum Nabi Luth yang durjana itu telah diberi peringatan keras oleh Nabi Luth agar meninggalkan tradisi buruk itu, sebagaimana diungkapkan pada surat al-A’raf (7): 81, an-Naml (27): 55, dan al-‘Ankabut (29): 29, tetapi mereka tetaptidak may meninggalkannya, bahkan menantang Nabi Luth agar Allah menurunkan azab kepada mereka, karena mereka ragu-ragu terhadap kebenaran pengakuannya sebagai Nabi Allah SWT Kaum Nabi Luth memang terkenal berperangai keras dan kasar, amat sulit menerima pendapat orang lain, sekalipun pendapat itu benar dan baik. Sangat berbeda dengan perangai Nabi Luth, yang lemah lembut, bersih dari segala noda, baik lahir maupun batin.

Perbuatan kejahatan itu padamulanya dimulai dari yang kecil, kemudian meningkat sedikit demi sedikit, akhirnya menjadi besar, dan menjadi perangai dan watak yang melekat. Bila telah demikian, sangat sulit mengubah dan memperbaikiriya, bahkan yang bersangkutan menganggapnya sebagai hiburan yang menyenangkan.

Kaum Nabi Luth pun pada mulanya hanya main-main belaka, tetapi lama kelamaan menjadi berkembang dan membesar, dan akhirnya menjadi darah daging yang sulit ditinggalkan. Karena mereka tidak mau bertobat dan malah membangkang terhadap peringatan Nabi Luth, maka akhirnya mereka ditimpa bencana yang sangat dahsyat, sehingga hancur binasa. Hanya Nabi Luth dan sebagian keluarganyayang selamat, kecuali istrinya, karena dia termasuk orang yang tidak beriman, sebagaimana diungkapkan dalam firman Allah, “Kemudian Kami seiamatkan dia dan pengikut-pengikutnya, kecuali istrinya: dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu,” (QSal-A’raf[7]:83-84).

Azab Allah

Azab yang ditimpakan kepada mereka merupakan hujan batu yang diturunkan dari langit. Rasyid Ridha dalam tafsirnya mengatakan, kebenaran ayat itu sangat masuk akal. Beberapa laporan menyebutkan bahwa sebagian penghuni pantai laut mengalami turunnya hujan tanah, dan kadang-kadang hujan ikan yang diturunkan bersama air hujan. Angin kencang memang sering membawa debu banyak hingga terkumpul dalam awan, kemudian turun bersama air hujan seperti tanah lumpur.

Menurut Rasyid Ridha, ada juga kemungkinan hujan batu tersebut merupakan sisa-sisa pecahan pecahan benda-benda langit seperti meteor, yang kemudian ditarik oleh bumi setelah mendekatinya. Kadang-kadang benda tersebut terbakar karena kecepatan dan kekuatan gravitasi (gaya tarik) bumi, dan kadang-kadang selamat dari kebakaran dan jatuh ke bumi dengan suara yang amat keras. Sering pula pecahan tersebut ditemukan orang dan disimpan di musium (Rasyid Ridha, VIII: 516).

Menurunkan hujan batu bukaniah hal yang mustahil bagi Allah, dan pada saat sekarang pun dapat terjadi jika Allah menghendakinya, misalnya karena letusan gunung berapi dan sebagainya. Walllaahu a’lam. (RioL)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s