Racing is my blood, Islam is my way to life

Tujuh Jurus Penjinak Asma

 
1. Kenali Asma
Penderita dan keluarganya harus betul-betul memahami seluk beluk asma, termask cara mencegah serangan dan mengatasinya. Dengan demikian, Anda mampu melakukan langkah yang tepat dalam keadaan apapun.2. Kenali obat
Ada banyak obat yang bisa digunakan penderita asma. Mengenali dan memahami setiap obat beserta efek sampingnya akan membantu pasien dan keluarganya dalam mengatasi masalah yang ada.
Ada dua jenis obat asma, obat yang bekerja dapat untuk mengatasi serangan sesak napas (reliver) dan obat pencegahan jangka lama. Obat yang kedua berfungsi untuk mengatasi peradangan saluran napas (preventer/controller).
Obat-obatan reliver antara lain salbuterol albuterol, metaproternol, terbutaline, procaterol, obat golongan anti-cholinergik, teofilin kerja cepat, dan suntikan adrenalin atau epinefrin. Obat pencegahan jangka lama yang dapat dipakai antara lain jenis kortikosteroid, cromoglycate, nedcromil, agonis B2 kerja lama, teofilin lepas lambat, dan leukotrien. Dari semua obat yang tersedia, pemakaian inhalasi lebih diutamakan mengingat efeknya cepat, dosis kecil, dan efek samping minimal, meski digunakan dalam jangka panjang.

3. Pengolaan asma
Pengobatan tidak hanya dilakukan saat terjadi serangan. Pengelolaan asma juga diperlukan saat tidak ada serangan, dengan pengobatan pencegahan dan olahraga (senam) terpimpin.
Penderita asma tipe intermiten (sangat ringan) tidak butuh pengobatan pencegahan, karena dalam 1 minggu, kambuhnya kurang dari 1 atau 2 kali. Penderita tipe persisten ringan, sedang dan breat harus bertahap, sesuai dengan klasifikasinya.
Salah satu cara menandai berat ringannya serangan adalah dengan melihat cara bicara pasien. Bila bicaranya terputus-putus, digolongkan dalam serangan asma sedang. Jika penderita sudah mengalami kesulitan bicara karena sesak, berarti serangannya berat.
Penderitaa yang mengalami serangan ringan dapat diobati sendiri. Namun, bila serangannya sedang sampai berat, harus ditangani di rumah sakit.

4. Pelajari faktor pencetus asma (alergen)
Langkah ini penting agar penderita dapat mengendalikan penyakitnya. Ada beragam faktor pencetus asma, antara lain emosi atau stres, infeksi, zat makanan, zat kimia, faktor fisik yang dipengaruhi perubahan cuaca, kegiatan jasmani, dan obat-obatan.
Antara penderita yang satu dengan lainnya, faktor pencetusnya bisa berbeda-beda. Kerja faktor pencetus ini pun berbeda. Ada yang bisa mengakibatkan penyempitan saluran napas (bronchospasme) seperti emosi, udara dingin, latihan dan lain-lain.
Ada yang menyebabkan peradangan, misalnya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), alergen, zst kimia, dan asap rokok. Sebagian besar serangan asma dapat dicegah dengan menghindari faktor-faktor pencetus.

5. Rencana darurat
Langkah ini perlu terutama saat serangan asma mendadak berlangsung. Penderita jelas butuh pertolongan segera. Penanganan cepat dan tepat dapat dilakukan bila penderita dan keluarganya membuat rencana darurat secara tertulis bersama dokter, dan mengetahui kapan penaykitnya mulai tidak terkendali.
Bila penderita tidak punya rencana, pengelolaan akan butuh waktu lebih lamaa. Akibatnya salah diagnosis berupa underdiagnosis atau overdiagnosis bisa terjadi. Penderita dan keluarga akan rugi sendiri.
Kalau asma tidak terkendali, gejalanya antara lain serangan semakin sering, penggunaan obat bronkodilator kian sering, gejala asmanya sulit dikurangi atau dihilangkan dengan bronkodilator, dan bila diukur dengan alat peak flow meter akan menunjukkan penurunan arus puncak ekspirasi (APE) srta kenaikan variability.

6. Peningkatan kebugaran
Sesak napas yang dialami penderita menyebabkan ketidakseimbangan pada otot-otot pernapasan. Sebagian otot yang kerap digunakan akan membesar, sedangkan sebagian otot yang lain melemah. Akiabtnya, efisiensi dan koordinasi pernapasan menjadi kurang baik, fungsi serta pertahanan paru pun menurun.
Selain itu penderita juga kadang mengalami keterbatasan fisik atau membatasi pekerjaan fisik karena takut sesak, sehingga kebugaran jasmaninya berkurang. Dengan melakukan latihan jasmani berupa senam asma secara teratur dan terpimpin, otot pernapasan akan normal kembali, kapasitas vital paru meningkat dan kebugaranm lebih baik.

7. Monitor
Sampai saat ini asma belum dapat disembuhkan. Karena itu, setiap perkembangan yang terjadi pada pasien harus dimonitor secara teratur. Apalagi gejala asma sangat bervariasi.
Pengawasan ini termasuk dalam hal mengamati pengobatan, apakah cocok dipakai seumur hidup, perkembangan gejala, kondisi kebugaraan pasien, dan lainnya. Sebab itu, penderita harus rutin berkonsultasi dengan dokter.
Sumber: Senior

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s