Racing is my blood, Islam is my way to life

Semua di Tangan Presiden


Peserta AKKBB yg tertangkap membawa Senjata Api

Gerakan kaum liberal di Indonesia hanyalah ujung ekstrem dari ekstrem lainnya, kaum dogmatis. Adalah celaka jika pemerintah, dalam hal ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, membiarkan dirinya terhisap oleh tarikan keduanya. Kasus bentrok di Monas pada Ahad (1/6) kemarin adalah cermin kondisi demikian. Presiden telah terjebak sehingga bentrokan itu terjadi. Jika memang harus ada yang disalahkan pada ‘musibah’ ini, Presiden-lah sebagai salah satu yang bertanggung jawab. Namun, kita tentu bukan hendak mencari siapa yang salah, tapi bagaimana mengurai kasus ini agar bangsa ini selamat.

Kejadian kemarin harus segera diselesaikan secara hukum. Setiap pelaku kekerasan harus dipenjarakan, entah itu dilakukan Komando Laskar Islam ataupun oleh Front Pembela Islam. Apalagi, nada eskalasi sudah terlihat. Di Cirebon dan Jember, terjadi penyerangan terhadap FPI.

Bahkan, sekjen organisasi kepemudaan siap bergerak menyerbu FPI. Sejumlah orang menyerukan pembubaran FPI. Terlihat gagah dan universal karena yang dihajar adalah ‘Islam’, yang sebetulnya kaum minoritas dan kaum terburu dalam dunia global kepemimpinan Barat. Kaum Barat selalu menyebut Islam tidak kompatibel dan bahkan mengotori dunia yang kini dihegemoni mereka.


Foto yang sempat beredar memfitnah Sdr.Munarman, padahal ybs sdg mencegah bawahannya utk tidak anarkis

Pemerintah Indonesia pun gemetar setelah diintervensi empat negara sehingga tak berani menyikapi Ahmadiyah. Seorang anggota Wantimpres bisa menghina seorang ulama di depan umum dengan kata-kata kasar: bunglon, tak tahu diri, dan semacamnya. Kita pun menyorakinya dengan takzim. Tak cuma itu, melalui kuasa uang bisa beriklan di mana-mana dengan menuduh yang lain sebagai ancaman terhadap Indonesia. Umat Islam dibenturkan dengan negara: suara usang dari rezim Soeharto. Paranoid dan jahat.

Paling gampang untuk bersuara dan bertindak ‘bubarkan, penjarakan, tangkap, hukum mati’ orang-orang berlabel Islam. Apalagi, cuma mengatakan ‘mencederai kemajemukan dan tak sesuai nilai-nilai demokrasi dan kemanusiaan’. Bahkan, di Indonesia sekalipun. Partai-partai yang berkuasa, para jenderal di militer, media massa, dunia bisnis, ataupun aktivis LSM lebih banyak dikuasai oleh orang-orang yang jauh dari suara Islam. Mereka bisa saja beragama Islam. Tapi, mereka hidup dalam suasana yang lain atau tergiur oleh kucuran dana dan fasilitas beasiswa ataupun perjalanan ke berbagai negeri di forum internasional.

Namun, apa yang mereka lakukan hanyalah ujung ekstrem. Tentu saja, setiap ekstrem tak akan mampu menyentuh intinya. Ia hanya ada di permukaan. Karena, yang mayoritas sesungguhnya adalah yang diam. Jika kita membiarkan diri kita terus seperti itu, Indonesia pun akan sangat sulit maju dan sejahtera. Ketika kita menyelesaikan beragam soal, kita selalu bersikap elitis. Termasuk, soal BBM dan Ahmadiyah. Akibatnya, kita tergagap sendiri. Kita akan selalu menyalahkan mayoritas yang diam itu sebagai bodoh, pasif, malas, miskin, dan terbelakang. Maka, solusinya adalah kita memaksakan nilai-nilai kita, cara berpikir kita, dan dengan kecepatan yang biasa kita lakukan. Karena itu, kemerdekaan 1945, tumbangnya Sukarno, atau jatuhnya Soeharto tak menghasilkan apa-apa bagi mayoritas yang diam. Mereka tetap miskin, bodoh, dan terbelakang.

Saat ini, isu Ahmadiyah dibelokkan menjadi isu kebangsaan, kebhinnekaan, dan bahkan lebih sempit lagi menjadi isu FPI. Padahal, ini murni soal akidah Islam. Yang memutuskan pun MUI, bukan organisasi jalanan. Tak ada hubungannya dengan segala isu yang coba dibenturkan, apalagi dengan agama Kristen misalnya yang kini ikut-ikutan. Jika Presiden membiarkan soal ini berlarut-larut, konflik horizontal pun hanyalah soal waktu dan momentum. Tentu, kita tak menginginkannya. Kita ingin melihat, sekali-kali Presiden membuat keputusan berdasarkan aspirasi warganya. (RioL)

Kronologis Provokasi Monas 1 Juni 2008
Minggu, I Juni 2008 massa Hizbut tahrir Indonesia berkumpul bersama ormas islam lainnya melakukan aksi menolak kenaikan BBM di Jakarta menuju Istana negara. silahkan buka website resmi HTI . Diantaranya adalah : Perwakilan Serikat Kerja PLN, HTI, FPI, dsb.

Demo ini sudah mendapatkan ijin dari aparat kepolisian setempat dengan pengawalan yang rapih dan ketat. Dengan kata lain demo ini adalah kegiatan yg resmi dan legal berdasarkan UU yang berlaku di republik ini. Pada saat ayng bersamaan muncullah kelompok yang menamakan dirinya Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan berkeyakinan (AKK-BB) yang nota bene adalah pro Ahmadyah.

Seperti yang dilansir dalam siaran TV mengenai kegiatan AKK-BB ini sebelumnya tidak diperkenankan oleh Kepolisian terkait untuk melakukan aksi di wilayah Monas, Karena akan berbenturan dengan pihak yang tidak mendukung acara mereka. dengan kata lain, kegiatan AKK-BB ini tidak mendapat ijin untuk melakukan kegiatan diwilayah Monas.

Melihat gelagat negatif ini, Pihak FPI mengisntruksikan beberapa personilnya untuk mengetahui apa yg dilakukan oleh AKK-BB ini diwilayah aksi demonstrasi HTI. Ternyata mereka melakukan orasi yg menjelekan salah satu Ormas Peserta Demo dengan mengatakan ” Laskar Setan” dan sebagainya. Mendengar hal itu, personil FPI segera melaporkan kepada Laskar FPI mengenai temuan orasi tsb.

Beberapa laskar FPI segera meminta klasrifikasi kepada pihak AKK-BB mengenai hal ini. Pihak AKK-BB berusaha mengelak dan menjawab dengan sikap yg arogan sehingga membuat Laskar FPI kesal. Arogansi AKK-BB ini semakin menjadi dengan mengeluarkan sepucuk senjata Api dan menembakkan ke Udara 1 kali. Mendengar letusan ini, Laskar FPI mencegah perbuatan tsb tapi ditanggapi dengan tembakan ke udara hingga 4 kali.

Melihat aksi yg arogan dan sok Jagoan, Laskar FPI makin kesal dan langsung melakukan pemukulan terhadap provokator. Tidak ada pihak anak-anak dan wanita yang menjadi sasaran amarah pihak FPI. Hanya oknum yang sok Jagoan dan Arogan yang telah mengejek dan menghina kafir kepada laskar FPI yang menjadi sasaran empuk di kerumunan massa aksi Demonstrasi BBM ini. Beruntung tidak semua elemen massa demo ini ikut memukuli pihak AKK-BB

Diduga, AKK-BB adalah kelompok bersenjata yg sengaja disusupkan didalam kegiatan demo BBM minggu 1 Juni 2008 di Monas dengan menyertakan anak kecil dan wanita dengan itikad menjatuhkan opini BBM menjadi opini pembubaran FPI dengan melakukan provokasi sebutan Laskar Kafir dan tembakan senjata api.

KOndisi terakhir pihak FPI menjadi obyek makian masyarakat bahkan intimidasi oleh Nahdlatul ulama dan elemen2 nya sehingga Fitnah perjuangan semakin terbukti kebenarannya bahwa Dakwah di Jalan Allah SWT akan ditebus oleh fitnah, intimidasi, makian negatif opini oleh kafirun dan munafikun bahkan kelompok orang yg mengatas namakan ahli ilmu dan ibadah seperti NU dan elemen2nya. Wallahu A’lam Bisshowab.

Hasbiallahu wa ni’mal wakil, Ni’malmaula wa ni’mannashiir.
Cukuplah Allah Sebagai Pelindung dan Penolong Mujahid DAkwah (eramuslim).

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s