Racing is my blood, Islam is my way to life

Koran Tempo dan Tragedi “Preman Berdasi”

Oleh: Ahmad Hamzah*
Belum lama tuduhan Majalah Tempo terhadap MUI yang berusaha menggalang opini publik bahwa akar masalah kekerasan terhadap Ahmadiyah adalah Fatwa MUI sebagaimana dalam Majalah Tempo edisi 5 – 11 Mei 2008. Majalah tersebut menulis antara lain, “Kecemasan di mana-mana. Ketakutan merajalela. Majelis Ulama Indonesia harus bertanggung jawab atas semua ini”.

Kali ini, Koran tempo melempar provokasi opini dengan menampilkan Foto [pada penjelasan foto dinyatakan bahwa Munarman eks ketua YLBHI sedang mencekik salah satu anggota aliansi kebangsaan di kawasan Monas]. Dengan arogannya, digiringnya opini bahwa tindakan anarkhis tersebut dan lainnya merupakan justifikasi untuk membubarkan FPI.

Tampilan foto pada headline Koran Tempo yang provokatif disikapi Munarman pada dengan melakukan jumpa pers di markas FPI Jalan Petamburan III, Jakarta Pusat, Selasa (3/6/2008).

Dia mengatakan bahwa seorang pria dalam foto tersebut adalah anggota FPI yang bernama Ucok Nasrullah [detik.com]. Dengan demikian, tuduhan keji Koran Tempo tanpa melakukan tabayyun [konfirmasi] jelas-jelas merupakan tindakan pers yang tidak bertanggungjawab dan berjiwa “preman berdasi”.

Lha, wong beliau bermaksud mencegah anggota agar tidak anarkis, kok Tempo menyebarkan berita bohong bahwa Munarman mencekik anggota AKKBB. Dengan pemberitaan semacam itu, sudah jelas Tempo hendak melakukan “serangan” pembunuhan karakter dan memprovokasi kemarahan publik.

Gegabah tanpa Tabayyun [konfirmasi] dan Malu karena Kecele
Begitu gegabahnya, koran Tempo langsung menempatkan foto tersebut pada halaman utama koran tempo dengan memberikan penjelasan gambar bahwa disitu dinyatakan Munarman sedang mencekik anggota AKKBB. Menanggapi pemberitaan yang mengarah pada character assasination, tidak terima difitnah Munarman mengklarifikasi pemberitaan Tempo yang menyudutkan tersebut.

Di tempat terpisah, mengomentari pernyataan Munarman bahwa dia bermaksud mencegah anak buahnya agar tidak bertindak anarkis, LBH Jakarta Asfinawati, yang notabene pendukung AKKBB terlanjur malu, dan mencari-cari pembenaran lain dengan mengatakan bahwa ada seseorang lain yang mengaku dicekik Munarman yang tidak ada dalam foto tersebut. Pernyataan Asfinawati ini dinilai sebagai upaya mengalihkan rasa malu karena terlanjur kecele atas bukti dokumen berupa foto yang disebarkan kubu AKKBB dalam jumpa pers sebelumnya dan dikutip mentah-mentah oleh beberapa harian Nasional.

Di sini parahnya, redaksi Tempo tidak mengindahkan kaidah pemberitaan terkait dengan kebenaran informasi dan fakta yang disampaikan. Sebagaimana tertera dalam Kode Etik Jurnalistik Pasal 1 yang berbunyi “Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk”.

Sebagaimana pula dalam penafsiran atas Pasal 1 point b disampaikan sebagai berikut: “Akurat berarti dipercaya benar sesuai keadaan objektif ketika peristiwa terjadi” dan point d “Tidak beritikad buruk berarti tidak ada niat secara sengaja dan semata-mata untuk menimbulkan kerugian pihak lain”.

Namun dengan arogan bak “preman berdasi” harian Tempo memberitakan pada porsi yang tidak tepat agar publik tersesatkan sehingga publik pada benaknya muncul kesan oh, inilah aksi brutal FPI yang sedang melakukan tindakan anarkis luas biasa.


Fitnahan yang Maha Dahsyat yg dilakukan oleh koran Tempo dan media pro “Liberal” lainnya

Koran Tempo, Kredibilitasnya Diragukan ?
Informasi yang dipampang di halaman utama surat kabar nasional sekelas tempo memang layak diacungi “jempol”, tapi jempolnya menghadap ke bawah bukan keatas. Kenapa? Lha begitu mudahnya Koran Tempo melempar informasi ke publik tanpa mengikuti kaidah pemberitaan yang benar [tanpa dikonfirmasi kebenarannya]. Bukankah hal ini sangat membahayakan publik [andai saja koran tempo tidak meralat informasinya pada harian tempo edisi 4/6/2008].

Andai saja Munarman tidak mampu menghadirkan saksi pemuda yang ada di foto dalam konferensi pers, publik akan mendapatkan informasi yang keliru [fitnah]. Dan hal ini bisa berpotensi pada kekeliruan dalam pengambilan keputusan dan pengambilan kebijakan yang penting.

Dengan ketidakakuratan dan kesembronoan Tempo dalam pemberitaan tersebut, apalagi berita tersebut masuk pada area berita utama, yang notabene rubrik utama yang berpotensi menjadi opini publik, maka mau tidak mau, suka tidak suka, masyarakat akan menaruh rasa tidak simpati dan kehilangan kepercayaan terhadap pemberitaan Tempo pada rubrik-rubrik berita yang lain. Karena dengan tragedi tersebut akan menjadikan masyarakat mengambil kesimpulan bahwa Tempo tidak akurat, tidak dapat dipercaya, tidak kredible dan terkesan memojokkan, dll.

Ingat Kasus Koran Tempo, Ingat Kisah Rasulullah SAW
Ingat tragedi Tempo jadi ingat peristiwa besar pernah terjadi yang menimpa Baginda Rasulullah SAW. Suatu fitnah yang melibatkan Ibunda Aisyah ra. sempat mengguncang rumah tangga Rasulullah SAW. Ibunda Aisyah difitnah berbuat keji dengan salah seorang sahabat Rasul SAW bernama Sofwan bin Mu’attal. Nabi SAW pada waktu itu sempat merasakan perihnya fitnah. Fitnah itu bermula dari tertinggalnya Aisyah dari rombongan Nabi SAW, seusai berperang dengan Bani Musthaliq, pada Syaban 5 H. Istri Nabi SAW tertinggal rombongan dan sendirian di gurun yang lengang. Sahabat Shafwan ibnu Mu’aththal yang melewati tempat itu menemukan Aisyah sendirian. Ia pun menyuruh ibu kaum Muslim ini menaiki unta dan menuntunnya ke Madinah.

Apa lacur? Tanpa mengetahui duduk perkara, orang-orang yang menyaksikannya, menggunjingkan Aisyah dan Shafwan. Seperti Hadis Nabi tadi, gunjingan itu sempat menggoncangkan, di kalangan kaum Muslim.

Para shahabat yang telah teruji keimanannya ketika ditanya tidak ada yang mau memberikan komentar, hingga akhirnya Allah swt menjelaskan persoalan itu yang sebenarnya. Dan dengan berhati-hatinya terhadap berita ini menjadikan kaum mukminin terhindar dari penyesalan, karena memfitnah orang, apalagi dia Ummul Mukminin.

Kemudian Allah menyesalkan kaum Muslim yang tak bersangka baik, bahkan, menganggap perkara yang tak diketahui duduk perkara itu, sebagai hal ringan. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar (QS 24:15). Bahkan, menjanjikan azab yang pedih di dunia dan akhirat, bagi penyulut fitnah tersebut (QS 24:19).

Tabayyun Mencegah Fitnah yang Keji

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ (الحجرات:6)

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.[TQS Al-Hujuraat: 6]

Ayat ini turun dengan mengajarkan kepada kaum muslimin agar selalu berhati-hati dalam menerima berita dan informasi. Sebab informasi sangat menentukan mekanisme pengambilan keputusan, dan bahkan entitas keputusan itu sendiri. Keputusan yang salah akan menyebabkan semua pihak merasa menyesal. Pihak pembuat keputusan merasa menyesal karena keputusannya itu menyebabkan dirinya melakukan tindakan dhalim terhadap orang lain. Pihak yang menjadi korban pun tak kalah sengsaranya mendapatkan perlakuan yang dhalim. Maka jika ada informasi yang berasal dari seseorang yang integritas kepribadiannya diragukan harus diperiksa terlebih dahulu.

Perintah memeriksa ini diungkapkan oleh al-Qur’an dalam kata (فَتَبَيَّنُوا). Makna kata tersebut akan semakin mantap kita fahami dengan memperhatikan bacaan al-Kisa’i dan Hamzah, yang membaca kata tersebut dengan (فَتَثَبَّتُوْا). Kedua kata tersebut memiliki makna yang mirip. Asy-Syaukani di dalam Kitab Fath al-Qadir menjelaskan, tabayyun maknanya adalah memeriksa dengan teliti, sedangkan tatsabbut artinya tidak terburu-buru mengambil kesimpulan seraya melihat berita dan realitas yang ada sehingga jelas apa yang sesungguhnya terjadi. Atau dalam bahasa lain, berita itu harus dikonfirmasi, sehingga merasa yakin akan kebenaran informasi tersebut untuk dijadikan sebuah fakta.

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawaban“. (TQS. al-Isra’:36)

Wallahu a’lam bish-shawab
* Penulis adalah Mantan Pengurus Gerakan Mahasiswa Pembebasan Komisariat STAN Tahun 2005 [syabab.com]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s