Racing is my blood, Islam is my way to life

Surat untuk Adnan Buyung Nasution

 

AHMADIYAH
Surat untuk Adnan Buyung Nasution

Dari: H Pangadilan Daulay MA MSc
Dosen Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al Quran Jakarta
Mantan Wartawan Editor di Asia Selatan
Alumnus Quaidi Azam University Islamabad
Ketua Jamiah Al-Washliyah DKI Jakarta

Hal yang sangat mengenaskan adalah ketika seseorang merasa benar pada saat ia berbuat salah. Saya merasa prihatin dengan Abang yang selama ini menjadi kebanggaan saya karena di belakang nama Abang ada Nasution. Di samping prihatin juga kasihan karena dalam usia yang tidak tahu kapan akan berakhir, demikian ngotot membela yang salah. Kalau Abang membela koruptor, maka Abang berhadapan dengan masyarakat, tetapi ketika Abang membela aliran sesaat maka tidak hanya berhadapan dengan masyarakat tetapi juga dengan Allah SWT.

imageAbang dengan semangat menolak aliran sesat Ahmadiyah yang dikatakan bertentangan dengan UUD yang menjamin kebebasan beragama. Di sini masalahnya bukan kebebasan beragama, tetapi pengacak-acakan agama. Kalau aliran Qadiani membuat agama baru lalu diakui oleh negara, silakan.

Kemudian Abang mengatakan bahwa pelarangan terhadap aliran sesat Ahmadiyah, preseden buruk terhadap demokrasi di Indonesia. Demokrasi hanya menjamin kebebasan seseorang dalam batas-batas tertentu. Karena seseorang tidak bebas mencuri, tidak bebas memperkosa, tidak bebas merusak dan juga tidak bebas mengacak-acak agama orang lain.

Saya bertanya kepada Abang, bagaimana pendapat Abang kalau ada orang masuk ke rumah Abang lalu ia mengacak-acak rumah, apakah itu bagian dari demokrasi? Dan orang lain membela bahwa hak dia mengacak-acak rumah Abang.

Untuk Abang ketahui bahwa aliran ini muncul setelah terjadi perang umat Islam melawan penjajah Inggris di India pada tahun 1857 yang dikenal dengan ”The Mutiny of Freedom”. Penjajah Inggris kewalahan menghadapi perlawanan umat Islam. Setelah mengkaji kekuatan umat Islam ini maka penjajah menyimpulkan bahwa kekuatan mereka terdapat dalam tiga hal: Alquran, sosok Nabi Muhammad SAW, dan jihad. Lalu dibuat skenario untuk melemahkan kekuatan umat Islam dengan menampilkan seorang orator, ahli debat seorang ustadz lokal, dialah Mirza Ghulam Ahmad. Karena hidupnya susah maka dengan mudah ia digiring untuk motor perusakan Islam.

Ada empat tujuan pokok pembentukan aliran ini:
1. Penodaan terhadap Alquran
2. Penistaan terhadap kerasulan Muhammad SAW
3. Pengaburan pemahaman jihad
4. Merusak ukhuwah Islamiyah

Dalam Tablighi Risalah Vol VII, Faruq Press Qadian, Agustus 1922, Mirza Ghulam Ahmad menyampaikan, ”Seluruh hidup saya dari sejak kecil sampai hari ini ketika berusia 60 tahun, saya telah menyerahkan diri saya dalam tugas-tugas untuk menyebarkan dalam pikiran umat Islam bibit-bibit kepatuhan, prasangka baik, dan simpati terhadap penjajah Inggris dan berusaha menyapu habis pemikiran jahat seperti jihad dan lain-lain dalam pikiran bodoh di antara mereka

Dalam buku Qadiani terbitan Departemen Penerangan Pakistan ditulis: ”Dalam kondisi yang sangat penting ini, gerakan sesat Qadiani dimunculkan di sudut terpencil kota Punjab di bawah perlindungan penuh penjajah, tuan besarnya. Penyelidikan terakhir membuktikan bahwa gerakan sesat ini berada di bawah pengawasan penjajah yang skenarionya telah dipersiapkan dan para dalang dari rencana busuk ini cukup tepat setelah menemukan Mirza Ghulam AHmad Qadiani, seorang yang jiwanya tidak stabil yang dinobatkan sebagai ‘nabi palsu’ yang diberi tugas untuk merusak integritas keagamaan dan ukhuwah Islamiyah.

Penodaan terhadap ajaran Islam mencakup berbagai aspek dari ajaran pokok Islam :

  1. Alquran. Dalam buku Haqiqatul Wahy, hlm 391, Mirza Ghulam Ahmad berkata: Firman Tuhan yang diturunkan kepadaku demikian banyak sehingga bila dikumpulkan maka tak kurang dari 20 juz.
  2. Kenabian. Dalam Maktobat -i-Ahmadiyah vol V hlm 112, Mirza Ghulam Ahmad berkata: ”Dialah tuhan yang mahabenar yang telah mempercayakan nabinya di Qadian.”
  3. Tanah Suci. Dalam Haqiqatur Roya hlm 46: Qadian adalah ibu dari seluruh kota. Siapa saja yang menjauhkan dirinya dari kota ini akan terpotong dan tercabik-cabik. Buah-buahan Makkah dan Madinah sudah dipetik dan habis dimakan, sedang buah-buahan Qadiani tetap ada dan segar.
  4. Ibadah Haji. Dalam Paigham-i-Sulh, terbit 19 April 1933: Tidak dikatakan Islam sebelum percaya kepada Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian, seperti juga tidak dikatakan haji sebelum menghadiri pertemuan tahunan Qadiani karena untuk sekarang ini tujuan haji bukan lagi di Makkah.


Kerusuhan Gujarat thn 2002 lalu telah menewaskan 2.000 muslim, Konflik antara Masyarakat Hindu (mayoritas) vs Islam adalah warisan sistim pecah belah “bambu” sejak Kolonialisme Inggris di India

Masih banyak hal-hal pokok dalam ajaran Islam yang dikacau-balaukan. Karena itu Rabithah Alam Islami menyatakan aliran ini adalah kafir dan keluar dari Islam. Pemikir Musim Pakistan, Dr Muhammad Iqbal, menyebut mereka ”Traitors of Islam/Pengkhianat terhadap Islam.”

Pada 1953, pecah gerakan anti-Ahmadiyah besar-besaran di Punjab sehingga pemerintah memberlakukan hukum darurat. Dan pada 1974 Majdlis Nasional Pakistan melahirkan Undang-Undang dan Pasal 260 ayat 3 menyatakan aliran Qadiani adalah di luar Islam.

Majelis Nasional juga mengesahkan Undang-Undang Hukum Pidana terhadap aliran sesat Qadiani. Pada ayat 298 C disebutkan: Barangsiapa dari golongan Qadiani atau Lahore (yang menyebut mereka Ahmadiyah atau nama lain) yang secara langsung atau tidak langsung mengaku sebagai Muslim atau menyebut atau menyatakan kepercayaannya sebagai Islam atau menyebarkan atau mempropagandakan kepercayaannya atau meminta orang lain untuk menerima kepercayaannya baik melalui kata-kata atau pembicaraan atau tulisan atau melalui gambaran yang dapat dilihat atau melalui apa pun yang menyakitkan perasaan keagamaan umat Islam dihukum penjara atau dengan hukuman lain yang dapat diperpanjang sampai tiga tahun dan dikenakan denda.

Dalam keterangan ini, apakah Abang masih membela kesesatan? Sekali lagi bahwa ini bukan hak kebebasan beragam, tetapi perusakan terhadap ajaran Islam, di mana setiap Muslim termasuk Abang wajib menjaganya. Pelarangan narkoba bertujuan untuk menyelamatkan masyarakat dari kerusakan. Sedang pelarangan aliran sesat Ahmadiyah untuk menyelamatkan masyarakat dari kesesatan.

Semoga Abang diberi hidayah oleh Allah SWT. Amin.

Munarman VS Adnan Buyung Nasution

Bagian 1

http://www.youtube.com/watch?v=bo_LqXBzOpQ

Bagian 2

http://www.youtube.com/watch?v=w9ORpYVwYLA

Ahmadiah Studi Kasus Pakistan
Hal yang menyedihkan dari umat Islam adalah mereka mempelajari sejarah, tetapi tidak belajar dari sejarah


Mirza Ghulam Ahmad : ‘Nabi’ Pelayan Imperialis

Dr Muhammad Iqbal , salah seorang pendiri negara Pakistan, mengecam aliran Qadiani (Ahmadiah) dan menyatakan mereka sebagai Penghianat terhadap Islam. Dr Muhammad Iqbal pernah mengusulkan penyelsaian aliran Qadiani dengan menetapkan mereka sebagai non-Muslim. Hal ini sesuai dengan kepercayaan mereka bahwa umat Islam adalah kafir. Seperti pernyataan Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad yang dimuat dalam ”Aina-e-Sadaqat” halaman 35: ”Semua umat Islam yang tidak mengikuti Al Masih Al-Mauud (Mirza Ghulam Ahmad) adalah kafir dan keluar dari Islam, meskipun mereka tidak mendengar seruan ini.” Hal senada juga sering disampaikan oleh Mirza Ghulam Ahmad.

Dengan menempatkan mereka di luar Islam sesuai dengan keyakinan mereka, menurut Dr Muhammad Iqbal, maka umat Islam akan memberikan toleransi kepada mereka seperti pada agama-agama lainnya. Usulan Muhammad Iqbal ini menjadi kesepakatan umat Islam India. Namun usulan ini ditentang oleh penguasa Inggris. Karena bila diterima akan memukul balik penjajah Inggris sendiri, karena tujuan pendirian aliran Ahmadiah adalah untuk mengacak-acak sendi-sendi Islam dan Ukhuwwah Islamiyah.

Dalam buku ”Qadianiat” halaman 25 disebutkan: ”Tujuan utama penjajah adalah untuk memecah belah umat Islam. Sejak mereka gagal dengan berbagai cara, kemudian mereka menggunakan cara berbelok melalui mesin Qadiani.”

Bentrokan yang terjadi di Monas pada 1 Juni 2008 (ini tidak berhubungan dengan hari lahirnya Pancasila) antara Umat Islam, di mana Front Pembela Islam di satu pihak dan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan yang di dalamnya ada orang-orang NU di lain pihak, sangat disayangkan. Bentrokan antara dua kelompok ini dimenangkan oleh Ahmadiah.

Perlu diketahui bahwa masalah Ahmadiah bukan masalah kebebasan beragama dan berkeyakinan, tetapi perusakan terhadap ajaran pokok Islam. Dalam buku ”Tauhid-i-Maram”, Mirza Ghulam Ahmad menggambarkan Allah seperti hewan laut, bahwa Allah memiliki sungut yang menyebar ke segala arah yang melampaui alam semesta. Ini pelecehan terhadap Allah dan Alquran surat Asy-syuraa 11. Dalam kitab suci mereka ”Tazkirah”, ratusan ayat-ayat Alquran diacak-acak.

Pada halaman 33, diacak-acak surat Al Baqarah 23, denga mengganti kata ”bi-suratin” dengan kata ”bi-syifain”. Pada halaman 36, mengacak-acak surat Al-Hijr 53, dengan mengganti kata ”aliim” menjadi ”Hasiin”. Halaman 43, surat Al-Anfal 17 diaduk-aduk dengan ucapan Mirza Ghulam Ahmad. Pada halaman 94, dengan memenggal ayat 12 surat Al-Baqarah, disambung dengan memenggal ayat 62 surat Asy-Syura, lalu disambung dengan mengacak-acak ayat 118 surat Al-Mukminun, kemudian memenggal ayat 10 surat Al-Qamar, lalu masuk ayat Injil. Sekali lagi, ini bukan kebebasan beragama tetapi perusakan agama. Dan setiap Muslim berkewajiban membelanya.

Ketika Pakistan merdeka tahun 1947, adalah Dr Muhammad Iqbal yang mengusulkan agar pengikut Ahmadiah diberi tempat di Pakistan dengan harapan mereka bisa sadar dan kembali kepada ajaran Islam yang benar. Pengikut Qadiani kemudian memindahkan markas mereka ke Robwah di Propinsi Punjab.

Kebaikan yang diberikan kepada mereka malah dijadikan sebagai alat penyesatan umat, dan mengarah kepada perbuatan makar. Pidato pimpinan Ahmadiah di Quetta, Baluchistan, salah satu negara bagian terbesar di Pakistan pada 13 Juli 1948 yang merencanakan pendirian negara bagian Ahmadiah memperkeruh situasi.

Puncaknya meledak pada tahun 1953, ketika muncul perlawanan besar-besaran umat Islam melalui gerakan anti-Ahmadiah dalam bentuk kekerasan, sehingga pemerintah memberlakukan Hukum Darurat. Pemerintah Pakistan berusaha mempersempit ruang gerak mereka agar tercipta kedamaian dalam masyarakat, tetapi demikian besarnya desakan masyarakat akhirnya Majlis Nasional Pakistan menetapkan Pasal 260 UUD yang mengatakan Ahmadiah di luar Islam dan melarang kegiatan mereka.

Pada tahun 1974, Rabithah Alam Islami dalam putusannya mengatakan aliran Ahmadiah adalah kafir dan keluar dari Islam. Tahun 1975, disusul Malaysia dan Brunei melarang aliran ini. Hal yang sama dilakukan oleh Arab Saudi, Turki, Mesir, Afghanistan dan negara-negara Muslim lainnya. Sikap ini diambil sebelum wabah ini mengganas dan menjadi bom waktu. Dan bila pemerintah Indonesia tidak tegas, maka hanya memperpanjang persoalan bangsa. Bangsa ini sudah lelah berputar-putar dalam krisis ekonomi, politik dan aliran sesat sehingga kebangkitan bangsa yang dicita-citakan yang melibatkan semua unsur bisa-bisa Baru Bisa Mimpi. (RioL)

H Pangadilan Daulay MA MSc
Dosen Institut PTIQ Jakarta
Jl. H Ahyar No.16
Duren Sawit, Jakarta Timur


Keakraban dan Kesetiaan Murza Ghulam Ahmad dengan para Penguasa Penjajah Inggris di India TIDAK DIRAGUKAN

MIRZA GHULAM AHMAD sang ‘Nabi’ Pelayan Imperialis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s