Racing is my blood, Islam is my way to life

Merokok Bukan Sekedar Kebiasaan Buruk

 
Bahwa rokok juga bisa menimbulkan efek kecanduan sebgaimana kokain dan heroin, biasanya baru disadari ketika ingin berhenti merokok. Untuk itu, butuh lebih dari sekedar keinginan yang kuat.

“Berhenti merokok itu butuh perjuangan yang berat,” tutur Pak Pri, mantan perokok yang sudah lima tahun berhasil berhenti merokok. “Saya mulai merokok sejak berumur 10 tahun, saat kelas 3 SD. Mulai kelas 6 SD saya sudah merokok 3 batang sehari dan semakin lama semakin bertambah.”

“Tiga puluh lima tahun kemudian, tiba-tiba saja saya menjadi sering batuk. Setiap bangun pagi saya langsung terbatuk-batuk disertai dahak. Dokter mengatakan bahwa saya akan terus batuk kalau tidak mau berhenti merokok. Itu sebabnya saya putuskan untuk berhenti. Awalnya saya hanya berhasil berhenti selama 6 bulan, lalu merokok lagi. Tapi karena tak ingin sakit terus, saya mencoba hingga berkali-kali. Dua tahun kemudian barulah usaha saya berhasil.”

“Memang berat saat menahan keinginan untuk merokok. Kedua tangan saya sampai gemetaran, mulut seolah mengeluarkan air liur, pikiran rasanya kosong. Pernah menghitung 3 kali 3 saja saya tidak tahu berapa jumlahnya, padahal saya orang keuangan yang selalu berurusan dengan angka. Proses berhenti merokok itu sempat membuat saya merasa bodoh sekali,” cetus pria yang tinggal di Depok itu.

“Mulanya saya makan permen dan camilan untuk mengalihkan keinginan merokok, tapi badan saya jadi membengkak. Saya lalu mengganti camilan dengan buah-buahan. Saya juga mengurangi acara kumpul-kumpul yang bisa memicu keinginan merokok. Dan kalau keinginan merokok itu sudah tidak bisa dibendung lagi, saya paksakan diri untuk masuk kamar dan tidur meskipun tidak bisa benar-benar tertidur,” kenangnya.

“Saya juga terus mensugesti diri bahwa rokok itu rasanya tidak enak. Setiap kali dalam pikiran saya timbul keinginan untuk merokok, langsung saya singkirkan jauh-jauh keinginan itu. Tapi sekarang semuanya sudah berlalu. Kini saya bisa menikmati hari-hari saya tanpa rokok. Bahkan ketika mencoba merokok, hanya pahit yang terasa di mulut saya, ” kata Pak Pri mengakhiri kisahnya.

Barangkali cerita Pak Pri tersebut bisa membuat Anda paham bahwa berhenti merokok memang bukan hal yang mudah. Kita tak bisa begitu saja menuduh seseorang kurang memiliki niat yang kuat ketika satu-dua kali gagal berhenti merokok. Rokok memang mengandung nikotin yang bisa menimbulkan efek kecanduan.

Efek Candu Nikotin Setara Heroin atau Kokain?

Di dalam tubuh, nikotin bisa menghasilkan berbagai efek yang berbeda pada saat yang sama. Nikotin menstimulasi sistem tubuh, walau membuat orang juga merasa relaks. Nikotin pun mempengaruhi senyawa kimia di dalam otak, memicu munculnya hormon dopamin, sehingga sehabis menghisap rokok orang akan merasa nyaman selama beberapa saat.

Ketika baru merokok, asap tembakau memang membuat pusing dan sakit, tetapi biasanya orang akan segera terbiasa. Begitu melanjutkan merokok, tubuh perokok mulai menunjukkan ketergantungan pada nikotin dan semakin lama jumlah rokok yang diisap cenderung semakin banyak.

Begitu perokok tersebut berhenti, umumnya mereka akan mengalami gejala kecanduan seperti merasa gelisah, cepat lapar, mudah marah, dan sulit berkonsentrasi pada pekerjaan. Karena itu, meskipun sudah cukup lama berhenti merokok, mereka yang masih sekali-sekali merokok, dengan mudah akan kembali menjadi perokok.

Berbagai studi telah menunjukkan bahwa bagi banyak perokok, nikotin bisa menimbulkan efek kecanduan yang sama seperti heroin atau kokain. Suatu contoh adalah banyaknya perokok yang tidak mampu berhenti meskipun mereka sadar bahayanya. Umumnya mereka tidak percaya bahwa mereka akan terkena efek buruk akibat kebiasaannya merokok.

Sementara para perokok yang sudah sadar dan ingin berhenti, umumnya merasa bahwa itu bukan hal yang mudah. Menurut hasil survei Pfizer Inc. pada tahun 2006, dalam studi SUPPORTS (Smoking: Understanding People’s Perception, Opinions and Reactions to Tobacco), lebih dari separuh perokok yang berusaha berhenti umumnya mengalami kegagalan setidaknya tiga kali. Sedangkan 80% dari mereka yang gagal tersebut biasanya hanya mengandalkan keinginan yang kuat saja untuk berhenti merokok. Mengapa keinginan seseorang untuk berhenti merokok perlu mendapat dukungan?

Merokok adalah masalah Kesehatan

Dr. Menaldi Rasmin, SpP(K), spesialis paru, dalam sebuah semiloka mengenai rokok yang berlangsung di Plaza Senayan Arcadia tanggal 30 Mei 2007 yang lalu menjelaskan bahwa menurut hasil survei bertaraf internasional yang dilakukan Pfizer Inc, hampir semua dokter sepakat bahwa merokok adalah perilaku adiktif dan 81 % menganggap bahwa kebiasaan ini merupakan masalah kesehatan kronis yang berulang. Sayangnya, di Indonesia merokok hanya dianggap sebagai sebuah kebiasaan buruk oleh para dokter. Merokok belum dianggap sebagai masalah kesehatan.

Di Indonesia, merokok masih dianggap sebagai hal biasa. Berdasarkan survai yang dilakukan oleh WHO pada tahun 2001, Indonesia adalah negara dengan jumlah perokok 69% dari seluruh populasi. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar di dunia. Mayoritas perokok menganggap rokok sebagai ketergantungan fisik dan emosional, namun banyak juga yang menganggap rokok sebagai gaya hidup.

Padahal saat seseorang menghirup asap rokok, maka ribuan zat kimia berbahaya akan ikut memasuki saluran pernapasannya. Zat kimia berbahaya tersebut terdiri dari kurang lebih 4000 zat kimia, 60 di antaranya dapat menyebabkan penyakit jantung, kanker pada paru, tenggorokan, mulut, kandung kemih, dan ginjal. Juga kanker jenis lain.

Berikut ini beberapa zat berbahaya dalam rokok.

NIKOTIN
Bahan dalam tembakau yang bersifat menimbulkan kecanduan. Campuran nikotin dan karbon monoksida dalam setiap batang rokok untuk sementara akan meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah, sehingga membebani kerja jantung dan pembuluh darah. Ini bisa menyebabkan serangan jantung dan stroke. Juga membuat aliran darah melambat, dan mengurangi jumlah oksigen yang masuk ke bagian kaki dan tangan.

TAR
Terbuat dari berbagai macam bahan kimia, termasuk gas dan bahan penyebab kanker. Tar menyelubungi paru-paru seperti jelaga di cerobong asap. Namun mengganti rokok dengan rokok lain yang nilai tar-nya rendah pun tidak akan membantu, karena para perokok biasanya jadi lebih dalam menghisap rokoknya dan lebih lama menahan asap tersebut di dalam tubuhnya, sehingga menarik tar semakin dalam memasuki paru-parunya.

KARBONMONOKSIDA
Menyerobot oksigen yang terdapat pada otot, otak, dan jaringan otot, sehingga membuat seluruh tubuh, khususnya jantung, terpaksa bekerja keras.

Jika Berhenti Merokok

Dr Menaldi Rasmin juga menjelaskan bahwa tidak banyak orang yang menyadari efek positif yang terjadi pada tubuhnya ketika ia berhenti merokok. Secara jangka pendek, hanya dalam waktu 20 menit setelah rokok yang terakhir, terjadi penurunan tekanan darah dan detak jantung. Delapan jam berikutnya akan terjadi penurunan kadar karbonmonoksida pada darah dan peningkatan kadar oksigen sehingga keadaan menjadi normal. Lebih baik lagi, 24 jam setelah rokok terakhir akan terjadi penurunan risiko serangan jantung.

Sementara itu dalam jangka panjang, perbaikan-perbaikan setelah berhenti merokok akan menjadi lebih nyata. Paling tidak selama 2 minggu hingga 3 bulan setelah rokok terakhir, fungsi paru akan meningkat dan sirkulasi darah akan membaik. Satu tahun setelahnya risiko penyakit jantung koroner berkurang 50% dibanding perokok.

Bahkan lima tahun sesudahnya, risiko stroke akan menurun sehingga menjadi sama dengan orang yang tidak pernah merokok. Dan mereka yang berhenti merokok hingga 15 tahun lamanya patut berbangga hati, karena risiko penyakit jantung menjadi sama dengan orang yang belum pernah merokok sebelumnya.

Terpenting Kemauan

Namun demikian, menurut Dr Menaldi, pasienlah yang berperan penting dalam menentukan berhasil atau tidaknya usaha untuk berhenti tersebut, dibantu para dokter dan lingkungannya. Umumnya para perokok jarang membicarakan tentang rokok dan keinginan berhenti merokok pada dokter. Mereka yang mau menerima anjuran dokter untuk berhenti merokok adalah mereka yang sudah menderita penyakit yang berhubungan dengan kebiasaan buruknya tersebut.

Pengobatan untuk berhenti merokok yang saat ini tersedia, umumnya berbentuk terapi pengganti nikotin dalam bentuk permen, plester, dan semprot hidung. Prinsip kerjanya memberikan nikotin dalam dosis kecil secara bertahap sehingga mengurangi gejala kecanduan yang dialami pasien. Sedangkan obat terbaru yang akan segera beredar, prinsip kerjanya adalah menghalangi munculnya dopamin sehingga para perokok tidak akan merasakan lagi nikmatnya rokok setelah minum obat ini.

Sementara itu terapi alternatif untuk berhenti merokok, yang dikenal masyarakat saat ini adalah hipnoterapi. Cara lain yang bisa dicoba adalah terapi kombinasi Podorachidian dan EFT yang dipraktikkan oleh dokter Lucky Kartadinata di Kelapa Gading, Jakarta.

Menurut dokter Lucky, teknik Podorachidian ditemukan oleh Prof. Diana Mosof seorang ahli di bidang chiropractic dan energi bunga. Merupakan pengembangan dari teknik chiropractic. Mula-mula pasien akan diterapi jika punya alergi terhadap jamur, elektromagnetik, hingga plastik. Kemudian baru dibuat alergi terhadap rokok. Untuk mencegah ketagihan sekaligus sebagai penguat syaraf, pasien dianjurkan makan vitamin B kompleks.

Namun untuk berhasil, tetap saja dibutuhkan kemauan yang kuat karena setelah terapi ada beberapa pantangan yang harus dipatuhi maksimal selama 5 hari. Pantangan tersebut adalah tidak minum teh, kopi, mentol, dan menggunakan sabun deterjen.

Jadi, meskipun untuk berhenti merokok pada awalnya memang dibutuhkan niat yang kuat, namun untuk berhasil diperlukan juga dukungan dari lingkungan dan para dokter. Setidaknya perokok bisa diingatkan bahwa terus merokok bukan hanya membahayakan kesehatan, tetapi juga bakal kecanduan.

Sumber: Majalah Nirmala

 

One response

  1. iYA…Aku setuju…

    Juli 20, 2008 pukul 10:07 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s