Racing is my blood, Islam is my way to life

Muslim Tibet Hidup di Pengungsian

Masood Butt adalah seorang Tibet. Dia mengikuti adat yang berlaku di masyarakatnya dengan berbahasa dengan bahasa lokal juga. Dan sama seperti warga Tibet lainnya, ia pembela Dalai Lama, sosok yang diyakini sebagai pemimpin mereka. Hanya satu yang membedakan dia dengan para tetangganya: dia seorang Muslim.

Ibagi pemerintah Cina, tak ada bedanya antara Tibet Muslim dengan Budha, mereka sama-sama dianggap musuh pemerintah. “Kami juga mengalami tekanan. Kami mengalami aneka kekerasan mental dan fisik,” ujarnya.

Tak kuat dengan tekanan yang dialami, ia dan keluarga menyingkir ke Kashmir. “Kini kami menjadi pengungsi,” ujarnya.

Sama seperti Butt, ribuan Muslim asal Tibet, wilayah yang sudah lebih dari 50 tahun di bawah pendudukan Cina, kini hidup dalam pengungsian di berbagai negara. Bahkan generasi berikutnya banyak yang lahir di pengungsian dan tak pernah melihat seperti apa wujud kampung halamannya.

Pengungsi Muslim asal Tibet terbanyak tinggal di India. Saat ini sekitar 2.000 orang tinggal di kaki pegunungan Himalaya dan banyak di antara mereka yang memilih menjadi warga negara India.

Di pengungsian, mereka mendirikan Tibetan Muslim Youth Federation, sebuah badan yang didirikan untuk mendukung kesejahteraan komunitas mereka. Mereka menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anak di pengungsian, kesehatan, dan sejenisnya. Mereka juga aktif menggalang solidaritas bagi Tibet.

Harmoni Muslim-Budha
Muslim dan Budha berbagi sejarah yang panjang di Himalaya, di wilayah yang kerap dianggap sebagai atap dunia itu. Islam pertama kali datang sekitar seribu tahun lalu, dibawa oleh rombongan pedagang dari Kashmir. Banyak di antara mereka kemudian memutuskan untuk menetap di Tibet dan menikah dengan warga setempat.

Melalui pernikahan, Islam tersebar. Dakwah yang disampaikan kemudian juga menarik banyak warga Tibet untuk memeluk Islam. Dari sebuah komunitas kecil, Islam berkembang menjadi komunitas besar di banyak tempat.

Komposisi Muslim terbanyak ada di Lhasa, ibu kota Tibet. Bersama umat Budha, Muslim hidup berdampingan secara damai. “Pemerintah Tibet membebaskan warga Muslim untuk menangani urusan-urusan mereka sendiri, tanpa intervensi,” ujar Butt.

Di Tibet, tak ada istilah pembauran yang dipaksakan, begitu Butt mengistilahkan. Kekebasan yang diberikan pemerintah diapreasiasi pendatang Muslim dengan meleburkan diri dalam komunitas setempat, dengan menyerap aneka budaya dan pranata sosialnya.

Pada masa pemerintahan Dalai Lama V, pemerintah menghadiahi komunitas Muslim sebidang tanah di Lhasa. Di atas tanah itu kemudian didirikan masjid pertama dan sekarang menjadi yang terbesar di Tibet. Beberapa tahun kemudian, tiga masjid lainnya berdiri di tiga tempat yang berbeda di Tibet.

Tak hanya itu saja bentuk perhatian pemerintah dan umat Budha bagi warga Muslim. Pemerintah Tibet juga memberlakukan keistimewaan bagi Muslim selama bulan suci Budha . Dalam bulan itu, tak boleh ada konsumsi daging bagi umat Budha. “Tapi khsusu Muslim, mereka bisa tetap mengonsumsinya,” tambah Butt.

Muslim juga memberikan kontribusinya kepada warga Tibet. Nangma, alat musik tradisional Tibet, diyakini sebagai bentuk sumbangan Muslim di bidang kesenian.

Namun harmonisasi Muslim-Budha berantakan setelah invasi Cina tahun 1950-an. Muslim dan Budha diadu domba. Muslim banyak yang ditekan. Tak tahan dengan penderitaan fisik dan mental, mereka lari ke Kashmir. “Kendati hidup di negeri orang, hati kami tertambat di Lhasa.” Ada sesenggukan dalam suara parau Butt.( tri/indiatimes/islamonline)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s