Racing is my blood, Islam is my way to life

Saat Nabi Berbicara Tentang Indonesia!

(Sebuah Renungan Pasca Insiden “Antrian Zakat” di Pasuruan)
Tanggal 15 September 2009 kemarin terjadi insiden yang sangat memilukan di depan rumah H. Syaichon di Pasuruan. Sekitar 6000 orang, kebanyakan ibu-ibu rumah-tangga, berdesak-desak untuk memperoleh pembagian uang zakat yang nilainya sekitar Rp. 30.000 sampai Rp. 40.000,-. Pembagian zakat belum berlangsung, tetapi jatuh korban hingga 21 orang meninggal, dan 16 orang luka-luka. (Pikiran Rakyat, 16 September 2009). Kebanyakan yang meninggal akibat kekurangan oksigen dan terluka karena terinjak-injak manusia.

Pasca kejadian ini, seperti biasa media-media massa sangat cekatan dalam mencari “kambing hitam”. Selain menyalahkan polisi, pihak yang dianggap paling bersalah disini adalah keluarga H. Syaichon sendiri. TVOne dalam siaran berita “Kabar Petang” pada hari itu dan diskusi malam, “Apa Kabar Indonesia”, jelas-jelas menyudutkan H. Syaichon. Rahma Sarita dari TVOne dan M. Syafei Antonio yang disebut-sebut sebagai pakar ekonomi Syariah terus menyudutkan H. Syaichon. Bahkan Syafei Antonia sampai menunjukkan “7 keburukan” di balik penyaluran zakat secara langsung, ala H. Syaichon itu.

Memang dunia ini semakin aneh. Ketika sebagian besar orang kaya Muslim di Indonesia bersikap koret dan pelit, lalu ada sebagian pihak yang tulus membagikan zakatnya, untuk menolong warga sekitar, malah disalahkan. Padahal semua itu sudah dilakukan sejak tahun 1975 dengan tidak ada insiden; baru di tahun 2008 ini ketika tekanan kemiskinan sudah mencapai titik nazhir, baru ada insiden. Menyalahkan orang yang berbuat baik dengan tidak mampu memberi solusi kongkret adalah “madzhab agung” yang selama ini paling laku di Indonesia.

Mencela Usaha H. Syaichon
Dalam berita Kabar Petang TVOne, sekitar pukul 18.00 WIB, Rahma Sarita berkali-kali menyudutkan sistem pembagian zakat yang ditempuh oleh H. Syaichon dan orang-orang disekitarnya. Rahma mengatakan, kurang-lebih: “Mengapa tidak memakai transfer bank atau ATM saja?” Warga-warga itu miskin, mungkinkah mereka memiliki rekening bank atau ATM? Jika memiliki, mungkin tidak perlu antri disana. Rasanya mustahil, seseorang yang memiliki rekening bank akan mau berburu uang 30 ribu atau 40 ribu sambil desak-desakan.

Dia juga mengatakan, kurang-lebih: “Uang yang dibagikan cuma 30 ribu, tetapi harus mengorbankan nyawa manusia sekian banyak.” Ya, memang tidak sepadan antara uang 30 ribu dengan korban nyawa. Dan H. Syaichon Cs. tentu sejak awal berniat baik, beliau tidak bermaksud membunuh manusia gara-gara uang puluhan ribu per orang. Jika memang Rahma atau TVOne merasa lebih baik, mengapa tidak mereka saja yang mengadakan acara seperti itu? Mengapa tidak mereka yang membagi-bagi sembako, bagi-bagi uang tunai, atau kalau perlu bagi-bagi transfer lewat bank? Mungkin, kalau mereka yang mengadakan, insya Allah lebih profesional, lebih rapi, lebih ter-manage, lebih bermanfaat, lebih kongkret, dll. Seperti kata hikmah, “Berbicaralah dengan perbuatan, bukan berbuat dengan pembicaraan!”

Kemudian dia mengatakan, kurang-lebih: “Mengapa tidak dilakukan usaha-usaha yang bersifat pemberdayaan, daripada bagi-bagi uang tunai?”

Lho, pmberdayaan itu tanggung-jawab negara. Negara yang lebih pantas melakukan hal itu. Mengapa ia ingin dibebankan kepada H. Syaichon? Apakah negeri ini telah berubah nama menjadi “Republik Haji Syaichon”? Bukankah namanya masih Republik Indonesia? Betapa naifnya ide seperti itu. Disini ada warga masyarakat yang ingin tulus berbuat baik, ketika mayoritas orang-orang kaya Muslim terserang penyakit koret, mengapa malah disalahkan? Justru usaha H. Syaichon itu harusnya menjadi sindiran keras kepada Muslim-muslim lain yang memiliki dana bermiliar-miliar, tetapi koretnya setengah mati.

Kita harus pandai menempatkan diri. Kapan kita bicara soal pemberdayaan, dan kapan bicara soal charity secara cuma-cuma. Lagi pula orang seluruh dunia sudah sama-sama tahu tentang BLT (Bantuan Langsung Tunai). Mengapa Rahma tidak sekalian mengkritik BLT, padahal ia resmi diadakan oleh negara? Kalau upaya H. Syaichon disalahkan, lalu BLT mau dikemanakan? Dan apakah insiden yang terjadi saat pembagian uang tunai atau paket makanan, baru sekali ini terjadi? Banyak data menunjukkan bahwa kejadian seperti itu sering terjadi.

Memang, apa yang dilakukan H. Syaichon dan kawan-kawan tidak ideal. Caranya masih tradisional, dengan manajemen seadanya. Tetapi hal itu telah ditempuh sejak tahun 1975, ia menjadi tradisi yang dipertahankan. Beliau pun selalu mengambil momen yang baik, yaitu bulan Ramadhan. Bukankah Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam lebih dermawan di bulan Ramadhan?

Dalam koran PR disebutkan. Menurut Ida (salah seorang warga), “Pembagian tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Sebelumnya, warga antre secara berurutan tanpa dibatasi pagar. Namun kali ini, pembagian dilakukan dengan memberi batas pagar bambu setinggi 2 m untuk warga.” (Pikiran Rakyat, 16 September 2008, hal. 1). Masih di PR, di bagian lain dikatakan, “Pemagaran tersebut dilakukan agar warga bisa mengantre dengan tertib. Namun ternyata, sebagian penerima zakat yang sejak pagi antre, berebut masuk ke dalam gang yang dipagar itu.”

Jadi motivasi pembuatan pagar itu semata untuk kebaikan, meskipun pada akhirnya masyarakat tidak sabar dengan mekanisme tersebut, sehingga pagar malah menjadi sumber malapetaka. Tetapi ingat, maksud awalnya baik.

Menyalahkan Pembagian Zakat Langsung
Dalam diskusi malam harinya, TVOne menghadirkan narasumber Imam B. Prasodjo dan M. Syafei Antonio. Imam mewakili Sosiolog, sedang Syafei Antonio mewakili cendekiawan Muslim. Pandangan Imam sementara kita abaikan, menarik mencermati komentar-komentar Syafei Antonio.

Belum apa-apa, Syafei Antonio sudah ofensif dengan menjelaskan “7 keburukan” sistem pembagian zakat secara direct (langsung). Sampai Tina Talisa, presenter acara “Apa Kabar Indonesia” itu bengong mendengar banyaknya keburukan cara direct ala H. Syaichon itu. Syafei pun diminta menjelaskan ke-7 keburukan itu secara bertahap. Beginilah tipikal khas orang-orang Indonesia. Ketika saudaranya tertimpa musibah, padahal niatnya sangat mulia, mereka bukan malah ditolong, malah digencet sekuat-kuatnya. Inna lillah wa inna ilahi raji’un. Padahal Nabi telah menasehatkan, “Sesungguhnya Allah selalu menaungi seorang hamba, selama hamba itu menaungi saudaranya.” (HR. Muslim).

Kita sama-sama tahu maksud perkataan Syafei Antonio itu, yaitu supaya masyarakat tidak lagi membagikan zakat secara langsung, tetapi dititipkan ke lembaga-lembaga amil zakat seperti Dompet Dhuafa’, Rumah Zakat Indonesia, DPU, PKPU, Baznas, dst. Dalam diskusi itu berulang-kali dia menekankan supaya masyarakat percaya kepada lembaga-lembaga zakat yang ada.

Syafei mengatakan, bahwa pembagian secara direct akan menjadi “parade kemiskinan”. “Mengapa bukan muzakki yang mendatangi mustahik? Mengapa harus mustahik yang mendatangi muzakki?” begitu logika Syafei.

Pertanyaan buat Syafei, apakah ada dalilnya dalam Al Qur’an dan As Sunnah, bahwa pembagian zakat harus muzakki yang mendatangi rumah-rumah mustahik? Coba dia sebutkan dalilnya! Bukankah dalam pembagian ghanimah di masa Rasulullah, kaum Muslimin dikumpulkan di suatu tempat, tidak didatangi ke rumahnya satu per satu? Seandainya cara seperti itu dianggap sebagai “parade kemiskinan”, lalu apa yang kita katakan terhadap mekanisme BLT di seluruh Indonesia? Apakah negera ini sudah layak disebut negera “parade kemiskinan”? Bukankah PKS juga sering mengadakan pembagian sembako atau pakaian layak pakai dengan cara mengundang warga datang ke lokasi pembagian? Bahkan tradisi masyarakat dalam membagi hewan qurban setiap bulan Dzul Hijjah rata-rata dengan pembagian langsung seperti H. Syaichon. Apakah setiap tahun Ummat Islam menggelar “parade kemiskinan”? Sejujurnya, pembagian zakat fitrah oleh masjid-masjid di Indonesia, masih banyak dilakukan dengan cara mengundang mustahik datang ke masjid.

Syafei juga mengatakan, bahwa mekanisme seperti itu tidak jelas pendataannya, tidak ada fungsi pemberdayaan, dan tidak ada pembinaan bagi para penerima zakat.

Ya, Anda harus maklum lah! Pembagian itu kan dilakukan oleh perorangan, oleh sebuah keluarga. Kalau mereka melakukan cara-cara tradisional, itu wajar saja, mereka bukan badan khusus atau sejenis “perusahaan zakat”. Apakah cara-cara tradisional ini harus disalahkan juga? Kalau begitu, Anda tetapkan saja, seluruh budaya tradisional masyarakat dihapus semua! Diganti semua dengan manajemen profesional oleh badan, lembaga zakat, atau dipaksa diambil alih negara. Sehingga kita menjadi negara Komunis, tanpa sadar.

Soal pemberdayaan dan lain-lain, itu wewenang negara. Jika ada individu yang melakukan, itu bagus. Tetapi kita tidak bisa memaksa! Harusnya kita bersyukur, masih ada dermawan yang membagikan hartanya dengan ikhlas. Mengapa semua ini malah diaru-aru (direcoki)? Apa jadinya, jika setelah ini para dermawan Muslim tidak mau lagi membagi zakat, sebab khawatir terjadi insiden yang jatuh korban jiwa, sehingga diri mereka diperkarakan ke pengadilan? Kalau itu yang terjadi, salahkan saja para “cendekiawan” yang sok pintar itu!

Syafei menegaskan, bahwa upaya mengumpulkan zakat harus dilakukan oleh sebuah badan atau lembaga. Ia beralasan dengan sebuah ayat Al Qur’an, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka,” (At Taubah: 103). Kata “khud” (ambillah) dipahami sebagai bentuk paksaan untuk menarik zakat dari orang-orang wajib zakat.

Syafei menambahkan, di jaman Nabi dan Khulafaur Rasyidin, ada badan khusus yang dibentuk untuk mengumpulkan dan membagikan zakat. Singkat kata, cara pembagian secara mandiri ala H. Syaichon itu tidak sesuai ajaran Islam.

Saya heran dengan pandangan seperti ini. Apa hal itu merupakan sindrom yang menimpa para Cendekiawan Muslim yang terlalu dekat dengan “plat merah”? Wallahu a’lam bisshawaab. Begitu mudahnya menempatkan dalil-dalil, tanpa merinci konteksnya secara teliti. Bahkan tanpa melihat realitas secara jujur.

Taruhlah, negara berhak memaksa rakyatnya untuk mengeluarkan zakat. Kalau tidak dikeluarkan, rakyat dikenakan sanksi. Tetapi di jaman Nabi kan konteksnya negara Islam yang UUD-nya Al Qur’an dan As Sunnah, sehingga negara berhak berdalil dengan Surat At Taubah ayat 103. Nah, di Indonesia ini, apa ada ayat-ayat Al Qur’an yang dimasukkan ke dalam konstitusi? Jelas sangat berbeda antara negara Islam dengan negara seperti Indonesia ini.

Katakanlah, OK negara tetap boleh memaksa rakyatnya membayar zakat dengan alasan Surat At Taubah 103. Lalu berbagai macam pajak yang sudah diambil negara dari berbagai macam persoalan itu mau dikemanakan? Tidak cukupkah negara membebani rakyatnya dengan sekian banyak aturan pajak? Apa disini ada segelintir “pahlawan” yang ingin menambah beban di pundak Ummat Islam dengan tambahan “pajak Surat At Taubah 103”? Cobalah jawab secara jujur!

Sebenarnya, dari dulu sudah ada lembaga zakat di Indonesia. Sejak lama masyarakat membayar zakat lewat RT, lalu diterukan ke RW, diteruskan ke Kelurahan, ke Kecamatan, Kotamadya/Kabupaten, lalu ke tingkat Gubernur. Nah, setelah terkumpul, dikemanakan zakat-zakat itu? Apakah ia dibagikan secara adil dan Islami seperti yang diajarkan Al Qur’an? Jangan kalau mau enaknya, berdalil dengan Al Qur’an; tetapi giliran berbuat adil, Al Qur’an diabaikan.

Justru semua itu sudah dilakukan, dan hasilnya Ummat kecewa. Jadi, wajar dong Ummat berusaha menolong saudara-saudaranya dengan memastikan bahwa bantuan yang mereka keluarkan, jatuh ke tangan yang tepat. Jangan sampai menguap seperti zakat-zakat yang tidak jelas itu.

Syafei juga mengatakan, bahwa pembagian zakat sebaiknya jangan individu, tetapi oleh lembaga atau badan. “Kalau selama ini banyak yang tidak percaya, mari kita perbaiki sistemnya,” kata Syafei Antonio.

Sebenarnya kalau jujur, posisi H. Syaichon dengan Dompet Dhuafa’, DPU, Rumah Zakat, PKPU, dll. posisinya sama. Hanya bedanya, H. Syaichon individu, lembaga-lembaga itu merupakan badan. Mereka semua ini orang swasta, H. Syaichon berusaha secara tradisional, sementara mereka lebih profesional. Malah sebenarnya H. Syaichon lebih gentlemen, sebab dia membagikan dana zakatnya sendiri, tidak mencari-cari zakat dari masyarakat. Sedangkan, lembaga-lembaga zakat itu selain mengelola zakat dari orang lain, mereka juga bersaing ketat dalam memobilisasi dana zakat. Dan semua itu diklaim sebagai “cara kreatif”. Sudah rahasia umum, setiap lembaga zakat cenderung melayani komunitas masing-masing, dan sangat birokratis terhadap kaum Muslimin yang membutuhkan bantuan.

Pihak yang berhak berdalil dengan At Taubah 103 bukan lembaga-lembaga di atas, tetapi negara. Sementara kita tahu bagaimana kondisi negara ini. Jadi, kepada Pak Syafei Antonio, mohon berhati-hati kalau berpendapat. Jangan sampai dari lisan Anda keluar ide kebijakan negara yang bisa semakin menjepit kehidupan Ummat Islam! Masyarakat sudah berat dibebani aneka jenis pajak, masih juga dipaksa membayar zakat. Itu pun tidak jelas pengelolaannya.

Hak Kebebasan Ummat Islam
Secara Syar’i, sebenarnya tidak ada ketentuan pasti bahwa zakat harus diserahkan ke amil zakat (Baitul Maal). Kita boleh membagikan zakat secara mandiri dengan prioritas orang-orang terdekat (ahlul qurba). Tetapi dalam sistem Islami, untuk pengelolaan zakat maal memang diatur oleh negara. Zakat maal diserahkan kepada negara dan dibagikan kembali kepada rakyat dengan cara seadil-adilnya. Disana berfungsi perintah “khud” (ambillah) dalam Surat At Taubah 103. Di jaman Khalifah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, ketika sebagian orang menolak membayar zkat maal (misalnya zakat ternak), mereka diperangi.

Tetapi sistem Islami itu sangat adil. Rakyat tidak sekedar dipaksa membayar zakat maal bagi yang telah mampu (mencapai nishab), tetapi mereka dibebaskan dari segala macam pajak, dibebaskan dari ribawi, berhak mendapat ghanimah, usaha bisnisnya dilindungi, tidak boleh ada monopoli, penipuan timbangan, dan seterusnya. Jadi, kewajiban zakat disana terasa sangat ringan, sebab beban-beban ekonomi lainnya sudah dilepaskan. Kalau di Indonesia, wajib pajak yang telah membayar zakat ke lembaga resmi, dengan menunjukkan bon pembayaran, mereka hanya dikenai pemotongan pajak, senilai zakat yang dikeluarkan. Ini kan sama saja, hanya sekedar membagi beban ke pos-pos berbeda.

Dalam konteks negara kita saat ini, Ummat Islam bebas menempuh cara bagaimanapun dalam membagikan zakat, selama cara itu baik dan tidak melanggar ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Tidak harus diserahkan ke lembaga-lembaga pengumpul zakat. Lembaga-lembaga itu sifatnya hanya pilihan, bukan satu-satunya jalan keluar. Bagi H. Syaichon sendiri, cara seperti itu tetap boleh dipertahankan, hanya perlu diatur sedemikian rupa agar tidak terjadi musibah lagi. Kecuali, kalau negara telah menetapkan aturan larangan, ya apa boleh buat, harus ditaati kalau tidak mau diperkarakan di pengadilan.

Membagi zakat, sedekah, infak dan sebagainya secara terbuka, tidak tersembunyi, hal itu boleh menurut Syariat Islam. Dalam Al Qur’an disebutkan:

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Al Baqarah: 274).

“Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik).” (Ar Ra’du: 22).

“Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: “Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada bari itu tidak ada jual beli dan persahabatan.” (Ibrahim: 31).

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anuge- rahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (Faathir: 29).

Jadi, memberikan bantuan sosial secara terang-terangan, hatta di-shoot oleh TV sekalipun, itu tidak dilarang. Seandainya berinfak secara tersembunyi, sehingga “tangan kiri tidak melihat apa yang diberikan oleh tangan kanan”, itu tentu lebih baik. Hikmahnya, dengan berinfak secara terbuka diharapkan akan menggerakkan orang lain untuk berinfak juga. Soal hakikat keikhlasan di hati seseorang, ya kita serahkan kepada Allah. Itu bukan wewenang kita.

Panorama Kemiskinan Ummat
Untuk kesekian kalinya Ummat Islam di Indonesia diperingatkan dengan terjadinya kasus-kasus yang sangat menyedihkan. Pada Juni lalu terjadi “Insiden Monas”, kemudian muncul “Ryan Jagal Jombang”, kasus korupsi 400 cek Bank Indonesia untuk anggota DPR, lalu benih padi “Super Toy”, dan akhirnya kini “Insiden Antrian Zakat” di Pasuruan. Belum termasuk kasus-kasus lain yang tidak penting disebut disini. Semua ini menjadi peringatan serius bagi Ummat Islam, setelah ribuan kali kita “diperingatkan” dan tidak sadar-sadar juga.

Kasus “Insiden Antrian Zakat” di Pasuruan sebenarnya menggambarkan kondisi sebenarnya Ummat Islam di bawah (grass root). Mereka hidup dalam tekanan sangat luar biasa, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya demi mendapat uang 30 sampai 40 ribu, sekian puluh orang meninggal dan menderita luka-luka. Seandainya tekanan hidup ini tidak sedemikian hebat, tentu mereka tidak akan meregang nyawa untuk mencari sejumlah uang dalam nominal kecil.

Apa yang terjadi wahai saudaraku? Inilah hakikat bencana kemiskinan yang sangat memilukan. Tidak terbayangkan, hanya demi 30 atau 40 ribu rupiah, mereka rela berdesak-desakan hingga jatuh korban. Alhamdulillah, baru meninggal 21 orang, bagaimana jika 210 orang? Atau 2100 orang? Tentu alangkah malangnya nasib kaum Muslimin di negeri ini. Mereka hanya menjadi “sampah” tidak berharga di tengah-tengah kehidupan industri yang semakin ganas.

Sangat ironis sekali. Indonesia adalah negara yang kaya-raya. Kekayaan kita mungkin terbesar nomer dua di Pasifik, setelah Amerika Serikat. Negara-negara seperti Malaysia, Filipina, Thailand, Brunei, Singapura, dll. tidak ada artinya dibandingkan kekayaan bangsa kita, mulai dari hasil tambang, kekayaan laut, hutan belantara, kesuburan tanah, kekayaan flora-fauna, sampai kekayaan pasar domestik berupa jumlah penduduk yang besar, sekitar 220 juta jiwa.

Di atas hamparan kekayaan yang luar biasa itu, kaum Muslimin tidak mendapat apa-apa, selain ampasnya belaka. Sebagian besar kekayaan diambil oleh negara-negara asing, atau para pengusaha keturunan China. Kita sendiri tidak mendapat apa-apa, selain subsidi yang terus dicabuti, BBM naik, harga gas naik, harga-harga barang kebutuhan semakin membumbung tinggi.

Apa yang hendak dikatakan lagi? Semua tampak nyata, jelas di depan mata, negeri ini kaya-raya, tetapi kaum Muslimin hidup melarat di atasnya. Jika ada Muslim yang kaya, biasanya mereka adalah orang-orang egois yang mengeruk untung di atas penderitaan saudara-saudaranya. Mereka menjual tulang-belulang, daging, dan kulit saudara-saudaranya dengan sangat murah ke tangan asing. Betapa hina dan tercelanya perbuatan mereka. Na’udzubillah min dzalik.

Sudah seperti itu, betapa banyak para ahli-ahli Islam yang tidak berani mengambil resiko. Mereka paham betul tentang dalil-dalil agama, hingga ke celah-celah perselisihan yang sangat detail. Tetapi mereka tidak mau tahu akan persoalan besar yang menimpa Ummat Islam. Kepedulian mereka hanya “ada di mulut” saja, banyak teori, dan retorikanya menakjubkan. Adapun dalam kehidupan sehari-hari kaum Muslimin tetap dibiarkan sengsara dan tertindas.

Fenomena Al Wahn
Para dai, aktivis, muballigh, ustadz, kyai, ketua ini dan itu, saat ini rata-rata ketakutan memikirkan sekolah anak-anaknya, nafkah isteri, profesi, karier, promosi jabatan, prospek bisnis, kemajuan lembaga, asuransi kesehatan, tabungan hari tua, dan seterusnya. Mereka mendalili semua itu dengan Kitabullah dan As Sunnah. Mereka tidak sadar bahwa semua itu adalah godaan dunia juga.

Islam adalah agama yang dinamis. Agama ini terus bergerak dan meminta para pemeluknya tidak berhenti bergerak. Jika kita diam, memilih kemapanan, enggan dengan resiko, selalu terbuai fantasi gaji, bisnis, hiburan, dst. kita akan kehilangan kekuatan potensial agama ini. Pada gilirannya, Islam hanya tinggal nama, tidak ada karakter, determinasi, spiritnya. Kemudian orang-orang kafir akan merajalela di kampung-kampung kita, sebab Ummat Islam sudah tidak memiliki wibawa sama sekali. Namanya besar, AL ISLAM, tetapi kualitas pemeluknya seperti kerupuk yang tersiram air. Telah dicabut rasa takut dari hati-hati orang kafir.

Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hampir tiba saatnya, ummat-ummat saling panggil-memanggil atas kalian, seperti mereka panggil-memanggil terhadap hidangan di atas nampan besar.” Berkata seseorang, “Apakah hal itu karena jumlah kami sangat sedikit?” Beliau menjawab, “Bahkan kalian di hari itu sangat banyak, akan tetapi kalian hanya busa, seperti busa banjir. Dan Allah benar-benar mencabut dari hati-hati musuh kalian rasa takut terhadap kalian, dan Allah menanamkan ke dalam hati kalian al wahn.” Berkata seseorang, “Ya Rasulullah, apakah al wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati!” (HR. Abu Dawud, Ahmad, Abu Nu’aim).

Hadits di atas adalah tabir Nubuwwah yang disampaikan oleh Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam tentang Ummat Islam di Indonesia. Sifat-sifat yang ditunjukkan dalam hadits itu persis seperti yang kita alami sekarang. Siapakah negara yang jumlah penduduk Muslimnya besar? Siapakah negara yang kekayaannya menjadi bancakan negara-negara kafir? Siapakah negara yang kualitas SDM rakyatnya sangat buruk, seperti busa banjir? (Menurut indeks kualitas hidup manusia versi UNDP, Indonesia ada di peringkat 112 atau 111). Siapakah yang dilecehkan terus-menerus oleh negara lain, sampai disebut “the beggar nation” oleh Singapura? Siapakah negara yang sifat-sifat kaum Musliminnya sangat penakut, terlalu cinta dunia dan takut mati? Ya, semua itu jawabnya: INDONESIA !!!

Apakah tidak cukup Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam memperingatkan kita dengan fenomena al wahn? Lalu dengan apa lagi kita harus diingatkan? Apa harus terjadi lagi Tsunami yang lebih dahsyat dari di Aceh? Atau gempa bumi yang lebih memilukan dari di Yogya? Atau lumpur yang lebih busuk dari di Sidoarjo? Atau perlu muncul 100, 200, atau 1000 orang semacam Ryan “Jagal Jombang”? Wahai orang-orang berakal, sambutlah peringatan Nabimu! Beliau adalah Nabi kita, pemimpin kita, imam kita, hargai perkataannya! (Kecuali bagi mereka yang telah memilih Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabinya. Na’udzubillah min dzalik).

Ketika November 1945, pasukan Sekutu memberi ultimatum ke rakyat Surabaya. Para pejuang disana diancam agar segera menyerah dan meletakkan senjata. Jika tidak mau, Surabaya akan dibumi-hanguskan. Maka Allahuyarham Bung Tomo dengan lantang menantang Sekutu agar turun ke Surabaya. “Allahu Akbar!” begitu pekik beliau berkali-kali di RRI Surabaya. (Dan takbir ini sangat menakjubkan, sebab di kemudian hari takbir menjadi syiar perjuangan para mujahidin Islam di seluruh dunia). Seperti itulah jawaban laki-laki sejati, pejuang Muslim yang tulus berbakti kepada Allah. Bukan orang-orang lecek yang banyak teori; bermegah-megah dengan rumah pribadi, mobil mewah, fasilitas elektronik, rekening bank, perusahaan, saham, travel ke luar negeri, dll. Sedangkan semua itu dinikmati di atas penderitaan ratusan juta kaum Muslimin. Inna lillah wa inna ilaihi ra’jiun.

Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan situasi yang menimpa bangsa Indonesia ini. Musuh-musuh Islam bukan lagi “hampir panggil-memanggil”, tetapi mereka sudah benar-benar bancakan, Mas. Tabir Nubuwwah Rasulullah berbicara situasi Indonesia saat ini, sebab tidak ada kesamaan yang sangat kuat dengan situasi negara-negara Muslim lain, selain Indonesia.

Maka sekarang kuncinya hanya satu, yaitu al wahn (cinta dunia dan takut mati). Apakah kita berani meninggalkan sifat ini atau ingin terus memeluknya erat-erat sampai terjerumus ke liang kubur? Ya, itu terserah kaum Muslimin. Saya hanya ingin mengingatkan, kehinaan hidup kita di dunia ini adalah pertanda kehinaan nasib di Akhirat nanti. “Maka siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkan dia kelak di hari Kiamat dalam keadaan buta.” (Thaha: 124).

Semoga Allah merahmati Bung Tomo dan para pahlawan Islam di masa lalu. Allahumma amin. Akhirul kalam, wallahu a’lam bisshawaab.

Indonesia, 18 September 2008.

AM. Waskito.
http://abisyakir.wordpress.com/

This Article Posted by : Abi Waskito
Date : 18 Sep 2008 – 3:00 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s